Radiasi Bening Jiwa itu
Sejenak ku perhatikan riuh rendah canda tawanya, bercengkrama
dengan adik-adik pengamen jalanan dirumah singgah, daerah Congcat. Aku tertarik
dengan caranya berinteraksi, membuat pola diskusi yang tidak menggurui tapi
tetap memiliki banyak arti. Caranya membuat Origami
cara melipat kertas dengan berbagai bentuk yang diinginkan.
Sepertinya tidak terlihat guratan lelah diwajah dari balik
jilbabnya, dia adalah temanku berbagi di rumah singgah ini. Masih banyak lagi
teman-teman suka relawan yang memiliki hati nurani untuk menjambangi rumah singgah
ini hanya sekedar tuk berbagi, meski itu hanya berbagi sebuah Poem kehidupan. Berbagi edukasi dan
pengalaman belajar. Salah satunya adalah dia, aku adalah teman yang sebaya
dengannya disini. Karena hanya kami berdua yang masih kategori pelajar. Temanku
yang lainnya kebanyakan adalah anak-anak Mahasiswa perguruan tinggi.
Dia orang yang begitu santun tutur katanya, lembut akhlaknya,
rendah pundak dan jiwanya, yang membuatnya sempurna adalah pola fikirnya.
Meskipun dia adalah anak SMA namun banyak rekan-rekan Mahasiswa yang menjadi
sukarelawan di rumah singgah ini menaruh respect terhadapnya. Karena caranya
memaknai suatu berita dan masalah kepelikan sistem berpikir. Tak jarang
Mahasiswa laki-laki kagum kepadanya, termasuk aku salah satunya. Mngkin, karena
hampir semua kesempurnaan cewek yang diharapkan setiap cowok ada pada dirinya.
Dia adalah anak Jendral berbintang tiga, dengan Ibu seorang
Dokter spesialis bedah syaraf. Lahir dari kalangan Ningrat dan Kesultanan
Melayu, namun karena dari kecil dia berada di Jogja maka, atitude yang melekat
pada diriya adalah jubah keraton Jogjakarta. Meski dia tidak pernah membantah
permintaan keluarga Keratonnya namun dia selalu berani bercengkrama dengan
lapisan sosial menengah kebawah. Dari para tukang becak di pinggiran tugu
jogja, sopir-sopir di terminal Terban sampai dengan para pengusaha kecil dan
menengah pasar Terban
Kepergiannya harus disertai dengan brikade atau kawalan
bodyguard suruhan Romonya, karena Ayahnya tidak mau melihat putri kedua dari
empat bersaudara ini tersakiti atau lecet sedikitpun. Karena menurut ceritanya,
ayahnya sangat khawatir dengan kebiasaanya yang selalu memasuki lorong-lorong
kumuh nan sepi di bawah lorong pasar Bringharjo, ato perumahan sempit di
pinggiran Sungai Mataram. Dia adalah anak kedua, dari empat bersaudara. Ayahnya
memiliki anak pertama seorang cewek yang menjadi kakaknya, sedang mengambil studi
di Turky. Karena kakaknya merupakan salah satu mahasiswa Indonesia yang masuk
dalam pertukaran pelajar antar negara. Dia masih memiliki dua adik laki-laki di
bawahnya. Adik ketiga setelahnya sekarang sedang duduk dibangku SLTP, sedang
adiknya yang terakhir masih sekolah di taman kanak-kanak Al-Ikhlas.
Dia sendiri sekarang sekolah disalah satu SMA bonafit
Jogjakarta. SMA yang juga dipercaya menjadi SMA international. Karena kualitas
murid dan tenaga pengajarnya yang memang dapat di uji tandingkan dengan
sekolahan lain. SMA N 3 Jogja, yup disanalah dia bersekolah. Bertemanakan
dengan teman dari kalangan konglomerat atau anak-anak berdarah ningrat, yang
tidak hanya berdiri di belakang embel-embel mereka tapi memang memiliki
kapasitas dan kemampuan otak yang mumpuni.
***
Pertama kali bertemu dengannya aku tak pernah menaruh perasaan
curiga sedikit pun. Karena gaya berpakaiannya dan darimana dia datang layaknya
orang biasa-biasa saja yang tidak meunnjukkan kesombongan karena hartanya.
Waktu itu, aku sempat diajak oleh kakakku untuk bermain ke rumah singgah. Bukan
hanya yang berada di Congcat (Condong Catur), tapi tempat-tempat lain seperti Melati,
Cemara Tujuh, dan lokasi-lokasi strategis bagi mereka tunawisma dan menyengaja
menjadi tunawisma. Meski, kebanyakan dari mereka masih memiliki keluarga
lengkap namun, diseberang kota lain di Indonesia.
waktu itu aku diajak ke rumah singgah anak jalanan yang dikelola
teman dari teman kakakku, namanya mas Gali. mas Gali ini yang mengelola rumah
singgah di daerah Condong Catur.
Kulonuwon, sapa kami berdua diantara ramainya sodara-sodara
dirumah singgah.
”monggo jawab mereka berbarengan”.
Ada perlu apa, ya mas? tanya ramah salah satu dari mereka.
”mau ketemu sama mas Gali, ada?” tanya kakakku.
baru saja dibicarakan, yang dimaksud keluar
”mas Gali, apa kabar?” sapa kakakku.
Mau ada apa mas Andek, tumben mau soan kesini?
”ini mas pengen ikut berbagi sama temen-temen disini”
Belum sempat kami berbicara banyak, mas Gali kemudian menggiring
kami kesebuah ruang, ruangan itu tidak terlalu besar, hanya berukuran tiga kali
empat meter. tapi, rapih dengan ornamen simple hasil karya seni teman-teman
penghuni rumah singgah. Disana kami bicara ngalor ngidul, kesana kemari sampai
teman-teman relawan pas berkunjung.
Asalamualaikum, ucap mereka bebarengan.
”wa’alaikumsalam jawab kami pun bebarengan”.
oia, ini teman-teman sukarelawan yang sudah terlebih dulu sering
berbagi disini. Kenalkan yang tinggi ganteng ini namanya mas Ridwan calon Dr,
yang sedang berkumis tipis ini mas Dono, yang kecil-kecil ini mbak Yuri calon
Dr juga, oia mas Dono ini calon arsitektur lo. perjelas mas Gali. sampe lupa
ucap mas Gali, dua orang ini namanya mas Andek sama adiknya Angga.
Proses berkenalan semakin menarik, karena ada lagi yang masuk
dengan sedikit terlihat letih di wajahnya.
”asalamualaikum, ucapnya ramah”.
Wa’alaikumsalam wr.wb. jawab kami berbarengan.
”nah yang baru datang ini namanya mbak Lintang, na mbak Lintang
ini mas Andek dan adiknya Angga, ucap mas Gali memperkenalkan”.
Dari perkenalan itu, kami yang tergabung dirumah singgah semakin
akrab, jadi lebih mengerti bahwa berbagi tidak hanya dengan membagi kebahagiaan
materi. Tetapi berbagi kesenangan rohani pun penting, seperti yang rutin
dilakukan oleh mbak Yuri dan Lintang. Mereka berdua selalu bergantian mengajari
teman-teman kecil yang berusia antara TK dan SD mengaji.
Sedangkan mas Dono, berbagi kebahagiaan dengan mengajari teman-teman
melukis dan merangkai barang bekas menjadi hasil sesuatu yang lebih berguna dan
dapat diperjual belikan. Mas Ridwan dengan pemikiran dan kepintarannya di
bidang ilmu pendidikan, dia mengajari teman-teman dengan membaca, berhitung dan
mengkaji ilmu sains.
***
Sambil mengamplas rumah barby hasil kerajinan anak jalanan dan
terlantar, sesekali aku memperhatikan Lintang dari kejauhan. Sepertinya begitu
sejuk dan menentramkan ucapan dan senyumnya. Menyenangkan bila bisa
berinteraksi denganny, tapi dia terlalu sibuk untuk menerima ku walau hanya
sekedar mengobrol. Tapi, aku harap maklum dengan semua ini, mungkin nanti
disaat waktu luang itu sudah ada. Mungkin aku bisa berbincang dan berbagi
pengetahuan dengannya.
Waktu yang aku harapkan tak perlu ku tunggu lama, ternyata dia
sudah selesai mengajari adik-adik kecil mengaji. Dia lalu berjalan pelan
menghampiri kami yang sedang mengamplas beberapa produk rumah-rumahan yang akan
di cat kemudian di hias agar terlihat lebih menarik.
Cinta bagaikan lautan, sungguh luas dan indah. Ketika kita
tersentuh tepinya yang sejuk, ia mengundang untuk melangkah lebih jauh ke
tangah, yang penuh tantangan, hempasan dan gelombang dan siapa saja ingin
mengarunginya. Namun carilah cinta yang sejati, di lautan cinta berbiduk
‘taqwa’ berlayarkan ‘iman’ yang dapat melawan gelombang syaithan dan hempasan
nafsu, insya Allah kita akan sampai kepada tujuan yaitu: cinta kepada Allah,
itulah yang hakiki, yang kekal selamanya. Adapun cinta kepada makhluk-Nya,
pilihlah cinta yang hanya berlandaskan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Bukan karena bujuk rayu setan, bukan pula karena desakan nafsu yang menggoda.
Sekelumit resah kembali parah
Berarak mulai mendaki
Menyemai tanya yang terbagi
Berakhir dalam sunyi dan elegy esok hari
Masihkah kau selayak selendang maya…?
Ataukah dirimu hanya jaring langit sore?
Atau bukan keduanya?Labels: Jogja Disini Masih Ada Cinta
0 Comments:
Post a Comment
<< Home