Virus merah Pink
GUGUS NAHL, dalam artikelnya
Cinta tak/belum terbalas mungkin menyakitkan .. bikin penasaran
… sekaligus berbunga angan-angan, "andaikan dia mau sama aku..",
"apa dia tahu perasaanku ya ?".Mau tidak mau, kita dipaksa untuk
mengakui dengan jujur…. , tiap hari pertanyaan serupa itu selalu muncul berganti-ganti.
Bila si dia menunjukkan respon ke arah "sana", hati kita
langsung "kling-kling" bersinar cemerlang, serasa hanya kita yang
diperhatikan .. "o, ternyata benar .. dia juga punya perasaan sama",
"tuh, hanya aku yang dapat perhatian seperti itu…bla bla..bla ".
Lagi, kalau si dia yang bikin kita kebat-kebit cuek dalam satu hari, hati tanpa
dikomando bilang "tuh kan ,
aku mah ge-er aja… ", "ah, ternyata dia nggak suka ma aku".
Lingkaran ini akan selalu berputar tak berkesudahan bila kita tidak bertanya
langsung kepada si dia (karena takut resikonya ditolak).
Setuju sekali dengan pendapat, betapa naifnya hanya karena cinta
pada satu orang, kita melupakan cinta dari orang-orang yang telah memberikan
cinta sejatinya dari orang tua, saudara, sahabat, guru-guru, dll. Nah, sekarang
bagaimana kalau CINTA BERBALAS? Apakah memang seperti gambaran orang-orang yang
patah hati karena cinta mereka bertepuk sebelah tangan ? Cinta yang berbalas
itu indah dan membahagiakan ?.
Cinta. Anugerah terindah itu pasti akan pernah mampir kepada
manusia, makhluk ciptaan-Nya yang dilengkapi akal dan perasaan. Kita juga tidak
pernah berencana untuk mencintai seseorang. Cinta itu datang tak terduga,
mengalir begitu saja dan paling parah.. sukar untuk menghentikannya.!
Di saat, virus merah pink itu datang pada kita… dan bluss !!
ternyata… CINTA ITU BERBALAS! Benar-benar indahkah? Membahagiakan kah? Ternyata
dari beberapa hasil survey, didapat kesimpulan "Cinta yang berbalas juga
tidak selamanya sesuai harapan". Hari-hari dipenuhi keraguan.. di saat
kita gembira bertemu dengan "dia", di saat itu pularasa
"takut" hadir, di saat kita merindukannya, di saat itu pula kita
merasa malu karena kita jarang mengingat pemiliknya, Ar-Rahman. Pergulatan
batin akan jadi sangat melelahkan jika kita tidak berusaha untuk
"mempertahankan" diri sekuatnya.
Mari nikmati CINTA hanya untuk mengharap balasan cinta dari Sang
Pemilik Cinta, karena hanya Dia yang tidak pernah mengecewakan kita.
<send…>
Kolomnya SATRIA......
Seperti kentut rupanya virus merah pink ini,
ditahan sakit perut di keluarkan akan bikin ribut. Hingga setiap yang setuju
terpagut, meresapi bau yang belum tentu wangi.
Aku belum memahami semua keresahan ini,
seperti apakah detailnya virus merah pink itu, apakah membahagiakanmu?
<sending…>
GUGUS NAHL
Saat engkau lelah dan putus asa karena kerja
keras yang tanpa hasil… Allah tahu betapa kerasnya engkau sudah berusaha.
Saat engkau menangis begitu lama dan
hatimu bersedih…
Allah menghitung tetesan airmatamu.
Saat engkau merasa hidupmu stagnan
dan waktu trs berlalu…
Allah sedang menantimu.
Saat engkau merasa kesepian dan
teman2mu begitu sibuk…
Allah ada di sisimu.
Saat engkau merasa bosan dan tidak
tahu harus berpaling kemana…
Allah memiliki solusi.
Saat semuanya tampak membingungkan
dan engkau frustrasi…
Allah memiliki jawaban.
Saat engkau menemukan secercah
harapan…
Allah telah berbisik padamu.
Saat segala sesuatu berjalan dengan
baik dan engkau senang mengucap syukur…
Allah memberkatimu.
Saat segala sesuatu yg menyenangkan
terjadi dan engkau dipenuhi kekaguman…
Allah tersenyum kepadamu.
Saat engkau memiliki tujuan dan
menghidupi impianmu…
Allah telah membuka matamu dan
memanggil namamu.
Ingatlah, kemana saja engkau pergi
atau apapun yg kau hadapi…
ALLAH TAHU.
Tidak ada yang mustahil bagi ALLAH.
S.W.T
<send…>
SATRIA
Aku, faham sekarang. Jejak tulisanmu yang membuatku mengerti
betapa sebenarnya rekayasa yang Tuhan turunkan ke bumi melewati batas fikir
diriku, dirimu atau diri manuasia bila mereka tak mau menyentuh merah pink
dengan akal dan hatinya.
Seperti apakah dirimu, Gugus Nahl? Tunjukan aku biduk rasimu…
GUGUS NAHL
Pernah kita sepakati, perbincangan ini akan berhenti dengan
sendirinya bila klien ku menanyakan tentang siapa diriku dan asal-usulku. Ku
ingin kau memahami betapa sulitnya berada pada jejaring maya seperti ini, aku
takut bila terjerumus jauh ke dalam lautan dangkal yang tanpa tepi. Bila salah
satu klienku ada yang mengerti diriku.
Bila sirkel rasiku berpendar tak menjauh maka kamu pasti akan
menemui wujudku…
<sending…>
SATRIA
Dirimu amat terasing bagiku, didunia
ini ataupun didunia nyataku. Ingin sungguh ku mengenal dirimu dan berbagi
keindahan serta rekayasa tuhan yang sama. Namun, ku coba mengerti langkah reyot
ketikan imaji ini hanya dapat tersambung dari jejaring maya ini.
Kapankah rotasi itu akan mendekatkan
sirkel rasimu?
<send>
………………………………………………… (Gugus Nahl out from line chat)
Bergulirlah
indah
Kunantikan
senja di ufuk layar cyber ku
Saat
rotasi rasimu menyentuh tepi nadirku
Saat
henyakan pertama
Merengkuh
dan merampas kebahagiaan hayalku namun,
Seiring
jejak kakiku berdetak, Aku tak bisa menyentuh batinmu
***
Pulang dari bermain seharian
membuatnya sibuk dengan pegal-pegal yang dirasakannya. Baru saja dia mengitari
pinggiran kota Kabupaten Sleman dengan dibantu sepeda united persi preestyle
kesukaannya. Dari menuruni terjalnya jalanan turi daerah agro wisata salak
pondoh yang terkenal di kota Jogja, lalu belok kekiri menuju arah Tempel, salah
satu pasar terkenal didaerah Sleman, kemudian berakhir di perempatan alun-alun
kabupaten sleman, hanya sekedar melepas lelah dan penat melayangkan sorotan
mata disekeliling taman kota. Yang selalu ramai didatangi oleh para muda-mudi
hanya sekedar untuk menikmati suasana sore menjelang malam hari.
Setelah itu di lanjutkan dengan
bersepeda melewati jalanan pinggiran kabupaten yang nembus diperempatan jalan Brengosan,
dia kayuh sepedanya menuju kearah utara, menyusuri jalanan aspal nan sepi
menuju kos-kosanya.
Gimana jalan-jalanya, seru nggak de’? tanya bapak kos pada ku,
dengan aksen jawa yang begitu kental.
”ya, gitulah pak, buat have fun aja.”
De’... de’, kamu tu bukannya waktu lubur itu buat
nyantai di rumah, la kok malah keluyuran.
”suntuk e pak kalo di kosan terus”. Jawabku sedikit
bergurau
La kok sampe sore gini to le pid-pitan? Tanya bapak kos padaku
”ya soalnya tadi mampir dulu di lapangan pak”.
Pasti maen bola dulu?
”nggak juga, tadi ada es monte, jadi beli dulu”.
Ya, udah mandi sana, baunya dah kecium dari radius 1km. Seling
Ibu kos
***
Segarnya setelah beberapa menit tubuh ini tersentuh dinginnya
air dari bak mandi. Ternyata pegal-pegal ini belum juga hilang, ingin tiduran
tapi baru saja adzan maghrib baru berkumandang. Ah malu rasanya dengan maghrib,
masak sudah dipanggil dari tadi malah mau tidur. Aku sempatkan ambil wudhu dan
melaksanakan ibadah shalat.
Setelah salam tak langsung kulanjutkan dengan berdo’a, aku
melompat dari dudukku, teringat tadi aku menagkringkan katel sebelum aku shalat.
Untung belum kering pikirku, kumatikan kompor yang masih menyala. Aku bingung
apa yang harus aku lakukan, tapi sebaiknya aku tidur saja, karena badanku capek
semua.
Belum jadi aku masuk kamar, tetangga kamar ku memanggil.
Mas, bisa minjem setrikaan nggak?
”ada nggak ya, bentar aku liat dulu”
Emang darimana sih mas, tadi siang aku cariin mau pinjem
setrikaan tapi masnya nggak ada.
”biasalah mbak, sepedahan keliling sleman”
O, asyik dong. Sama sapa aja kok nggak ngajak-ngajak?
”tadi sama anak-anak sini, gimana mau ngajak, dari tadi aja
nggak keliatan. Terus nanti mau ditaro dimana kalo ikut”.
Iya-ya, aku juga kan nggak punya sepeda.
”nih setrikaanya mbak”. Sambil ku sodorkan setrikaan.
Pinjem dulu ya, nti aku kembaliin kalo dah ku jual. Candanya
mbak Tih padaku.
Aku masih terpaku didepan pintu, bingung dengan apa yang mau aku
lakukan. Ah dari pada bingung kayak gini, dari tadi mau tidur ada aja yang
bikin nggak bisa tidur, mending keluarlah nyari suasana yang enak. Ku kunsi
pintu setelah sebentar tadi aku masuk untuk mengganti pakaianku, pakaian yang
menurutku lebih santai. Hanya dengan menggunakan kau oblong, celana pendek
biasa ku gunakan jika aku main basket dan sendal jepi kesukaanku.
Tak terasa kini aku sudah ada di depan toko serba ada, yang
didalamnya tidak hanya tersedia barang untuk dibeli, tetapi juga dilantai atas
terdapat tempat untuk bersenang-senang bagi mereka yang doyan bermain game. Ada
Ps, Bilyard, Bowling, dan internet yang bisa jadi pilihan buat mereka yang
datang ke toko ini. Wah bingung mau ngapain ya aku, masuk nggak ya, kalo mau
masuk terus mau ngapain? Tanyaku dalam hati. Baru saja aku mau beranjak masuk,
Dodi teman bermainku memanggil.
Angga, ngapain kamu disini?
”nggak tau nih Dod, aku bingung”.
Owalah, kamu yang disini kok kamu yang malah bingung, pie to?
”dah tau aku bingung, malah mbok tanya lagi”.
Dah yo ikut aku aja tempatnya Heru, kita jagongan.
”ada acara apa to?” Tanyaku meyakinkan ajakan Dodi
Itu adeknya Heru kan baru aja disunat.
”si Wahyu apa yang kecil siapa itu namanya?”
Ridho, jawab dodi. Bukan, yang baru di sunat si Wahyu.
”o....,”.
Ayo, melok ra? Tanya Dodi meyakinkanku untuk ikut.
”boleh-boleh, balasku”.
***
Keadaan rumah itu ramai sekali, memang benar ada acara
besar-besaran rupanya, terlihat dari jauh banyak orang tua dan muda berlalu
lalang memasuki pekarangan rumah itu. Rumah yang berarsitekturkan bangunan jawa
atau orang sering menyebutnya joglo dengan pintu masuk yang lebar dan besar.
Rumah itu terlihat unik, rumahnya bertingkat tapi menurun dibagian bawah rumah
adalah tempat dihuni semua keluarga, bagian atas seperti padepokan dan tempat
berkumpul disekat dengan bagian depan sebagai Outlet ukiran maklum pak Rusman
adalah pengrajin pahat asli dari Jepara. Beberapa menit sekali aku berdecak
kagum dengan arsitektur bangunan rumah ini dibagian belakang dengan sedikit
menurun seperti lapangan golf, dibuat taman nan indah. Nampak beberapa
adik-adik kecil seumuran Ridho adiknya Heru berlari-larian ditaman ini. Ada
Rasti rupanya, dia tersenyum padaku sambil membawa nanpan berisi beberapa jenis
minuman. Rasti itu kakak perempuan Heru, menurut Heru, Rasti sering kali
menanyakan diriku, darimana aku berasal, dimana kosku, aku sekolah dimana dan
semua yang menurutku biasa saja. Tapi heru begitu sumringah bila menceritakan
bahwa kakaknya selalu menannyakan keadaanku, karena menurut Heru kakaknya itu
belum pernah menanyakan seseorang seperti kakaknya ingin tahu tentangku.
Ada yang menarik perhatianku, kulihat beberapa pemuda berkerumun
memukuli, memotong menyobek janur kuning. Kuperhatikan dari jauh, tapi
pikiranku mengajakku untuk melihat lebih dekat, ada beberapa pemuda yang
membawa beberapa potong batang pohon pisang. Mereka sedang membuat dekorasi
dari janur kuning dan nantinya akan di hias dengan beberapa hasil pertanian,
seperti buah-buahan, sayur dan bendera dari uang kertas. Hal seperti ini tidak pernah
ku temui di tempat kelahiranku dulu, kebanyakan dari pemuda di perkotaan
tempatku lahir lebih suka bersantai dirumah daripada berepot-repot membantu
tetangga yang sedang punya hajat berhari-hari.
Detak waktu terlalu cepat dan sulit ku hentikan,
kulihat jam di atas pintu dalam ruang tengah. Sepertinya juga sudah mulai sepi,
adik-adik kecil yang tadi asyik berlari-larian kini sudah mulai berlari dalam
mimpi mereka masing-masing. Sudah tidak terdengar suara renyah tawa dan senda
para ibu-ibu dari areal dapur, yang tersisa hanya tawa bapak-bapak dan pemuda
didepan yang volume suaranyapun sengaja diperkecil. Sudah terlalu pagi rupanya,
tidak ingat besok aku ada janji kekota dengan kakakku.
Dengan mata yang ku paksakan untuk terus tetap bisa
melihat jalan pulangku ke kosan, badan ini berjalan pelan, sudah tidak ada lagi
teman yang bersamaku, Dodi yang tadi bersamaku kini memilih tinggal disana
karena asik maen cheqi (permainan
menggunakan kartu remi). Sunyi senyap jalan yang mengarah kekosanku hanya
sesekali aku berpapasan, dengan orang yang berprofesi sebagai pedagang dan
petani. Biasanya memang pagi-pagi sekali jenis pekerjaan itu dituntut untuk
bertarung.
Jadi ingat waktu pertama kali bermain ke Jogja dan
harus tinggal didesanya kakek, bukannya di wisma atau di hotel. Kalo pertama
datang ke Jogja tinggalnya harus di wisma atau hotel sedangkan masih ada rumah
Kakek buyut, jadinya tidak sopan. Teringat bila dirumah kakek buyut pagi-pagi
buta atau sekitar jam tigaan pagi, harus sudah terbangun karena suara gaduh
bapak, kakek dan kakek buyutku. Meskipun kakek dan bapak tidak ikut ke sawah
tapi mereka sudah bangun dan duduk-duduk di ruang keluarga yang besar, sepi dan
dingin itu. Nenek, ibu dan Nini buyutku sibuk membuat sarapan untuk sarapan
semua penghuni rumah kakek buyutku. Kata Kakekku kalo ke sawahnya terlalu siang
alias jam enam pagi, tidak akan dapat hasil kerjaan yang banyak. Maka petani
harus ke sawah pagi-pagi sekali, selain bias mengerjakan banyak kegiatan
bermanfaat di sawah dan bias mengetahui kalo ada hama tikus yang berkeliaran.
Kreeekkk, ku buka pelan-pelan pintu pagar rumah besar
yang menjadi tempat kosku, berharap tidak ada yang terganggu tidurnya. Tapi,
aku terkejut bukan main, rupa-rupanya bapak kosku, sedang asyik memperhatikanku
dari balik pintu dapur, dengan bersiap siaga membawa pentungan bisbol yang
biasa dia gunakan olahraga. Tapi aku dengan cepat membiasakan mimic wajahku
yang terkaget-kaget.
Uoooo, kamu to de’?
“ia pak. jawabku santai
Darimana kamu, tadi sore dicariin sama ibumu itu lo
“ibu dilampung pak?” tanyaku sedikit kaget
Bukan, itu lo ibu… sambil menunjuk kearah dalam
rumahnya.
“o, haulaku sedikit lega.
Oia kamu darimana, malam-malam keluyuran. Pagi gini
baru pulang nganggo mindik-mindik segala?
“situ pak dari rumahnya pak Rusman, ikut jagongan”.
Ou, besok lagi tu bilang kalo mau kemana-mana, jadi
nggak bingung nyariinnya. Kalo ada berita atau telephon dari Sumatra gimna
cubo? Tanya pak kos.
“ia pak, pamit kekamar dulu pak dah ngantuk neh”.
Yo wis,bapak juga mau ngelanjutin magh-maghan lagi,
hehehehehehehe.
***
Grusak,…… gabruk, klontak-klontang-klontang. Waduh
gaswat neh pagi-pagi gini gue udah bikin kekacauan. Gara-gara tadi pagi
pulangnya terlalu malem sih, jadi kesiangan deh bangunnya. Tanpa sadar warga
seluruh kosan keluar dari sarangnya termasuk Ibu kosan yang begitu ramah dengan
ocehan-ocehannya. Krek, kubuka pintu kamar kos,sambil ku lihat kanan dan kiri,
hehehe. Ternyata semua mata tertuju padaku.
Ada apa Ga, siang-siang dah nabrakin barang nggak
bersalah? Tanya Mbak Nensi
“biasa mbak, kepagian”. Jawabku dengan garuk kepala
dan sedikit cengar-cengir.
Dek Angga, kamu kenapa to, kok bangun kesiangan malah
ngamok-ngamok? Tanya suara tinggi di bawah kamarku, siapa lagi kalo bukan suara
bu kos.
“anu bu”. Tanpa ku lanjutkan jawabanku
Anu apa? Tanya bu kos lagi.
“biasa bu, mas Angga lagi kebanjiran tuh. Jadinya
nabrakin apa-apa yang tergeletak di lantai kamarnya”, sambar Dinda teman
sebelah kamarku.
Woo, makanya kalo malam tu jangan kelayapan. Terus pulangnya
jangan subuh-subuh, jadi nggak grusa-grusu kalo bangunya ke pagian.
“ia bu”, jawabku dengan memajukan bibirku yang memang
sedikit ku monyongkan
[gedong kuning 12.00]
Koe kok sue banget to Ga?
“sorri mas, bangunya ke pagian”.
Kebiasaan, kalo aku nggak di kosan apa kamu bisa
bangun pagi? Tanya Kakakku.
“semalem itukan aku ikut jagongan di rumahnya Heru”.
Yaudah yo kita pergi tuh bisnya dah ada, nanti malah
kesorean lagi pulangnya.
Bis RAS atau jalur 7 berhenti didepan kami, dan kami
pun duduk di pojok belakang. Karena hanya bangku itu yang menurut kami
strategis untuk melihat siapa yang masuk dan keluar bis, atau melihat
pemandangan perjalanan dari jendela bis kota. Dengan perlahan bis menyusuri
setiap sudut kota sampai di belakang pasar Bering Harjo, kami menghentikan bis
dan turun.
Waduh udah jam satu neh, kita shalat aja dulu yok.
Ajak kakakku
“ayo”. Sambil tetap melangkah mengikuti langkah kaki
kakakku.
Kamipun berjalan membelah kerumunan pedagang, dokar
dan becak yang berderet di pinggir-pinggir jalan Bering Harjo, menuju Masjid di
tengah-tengah parkiran pasar. Segarnya setelah sejam lamanya berada di dalam
bis kota, dan kini wajahku bersentuhan dengan dinginnya air dari keran Masjid.
Semakin malas rasanya berjalan-jalan diteriknya sinar matahari Malioboro, kalo
sudah shalat dan bersantai di dalam masjid ini. Begitu terasa tenang, nyaman,
menyejukkan. Kenapa ya setiap masjid selalu memunculkan nuansa yang sejuk
seperti ini? Tanyaku pada diri sendiri. Berbeda sejuknya dengan angin yang
dihasilkan dari Air Conditioner, atau kesejukan yang di hasilkan oleh dinginnya
pegunungan.
Masih asyik-asyiknya terbuai dalam kesejukan Masjid,
jaket yang aku kenakan ditarik oleh kakakku dengan paksa.
“lo jadi nyari nggak sih Ga?”
Ia, tapi bentaran geh.
“keburu sore, kampret”. Nti keburu nggak dapet
barangnya.
Ok, hayu. Jawabku sambil berdiri mengangkat tubuh.
Dengan sedikit malas kami menyusuri jalanan yang masih
penuh dengan pengunjung, dengan kanan kiri pemandangan batik. Karena jalan yang
kami lalui ini adalah lokasi tengah pasar tradisional, dimana yang di jual pada
bagian ini adalah batik, batik dan batik. Berjubel orang-orang berebut ingin
keluar dan masuk ke dalam pasar, semakin terasa sempit karena ada yang
menggunakan tengah jalan sebagai lapak berjualan asessoris. Barang yang kita
cari masih belum kita dapatkan, sebenarnya kakakku Dwindles juga bingung dengan
apa yang sedang kami cari.
Akhirnya kita keluar juga dari kerumunan manusia, dari
dalam pasar Bering Harjo. Mata kami mengitari ramainya daerah Malioboro, tapi
kakakku memutuskan untuk melangkah kearah selatan jalan Malioboro. Menyusuri
keramaian dan keramahan senyum setiap para pedagang yang kami lewati, hingga
langkah kaki kami terhenti didepan toko kecil bertuliskan Toko Dolanan. Aha,
akhirnya kami setuju untuk memasuki toko tersebut.
“Mas mau tanya kalo sweky ada? Tanya kami berbarengan
Ada, bentar ya. Tak lama kemudian dia kembali dengan
membawa katak beberapa macam bentuknya. Yang kayak gini bukan? Tanyanya balik.
“ia, tapi yang dari karet. Ada?”
Bentar, kayaknya masih ada. Sambil menunduk
mengobrak-abrik kotak yang berisi beberapa jenis mainan. Tanpa berbicara dia
taruh semua katak yang menurut dia terbuat dari karet, kemudian memunculkan
wajahnya kembali.
“kami lihat dan kami coba semua katak yang berada
diatas etalase, ada yang kenyal, terus warnanya agak sedikit butek nggak
kataknya”. Tanya kakakku.
Ada kayaknya, dengan wajah yang malas. Si penjaga toko
berlalu kedalam toko. Beberapa menit kami tunggu si mas-mas tadi nggak
keluar-keluar, tapi kemudian muncul mbak-mbak kecil dengan membawa kotak kecil.
“nah ini dia yang kita cari, serempak kami berdua”.
Sudah terbeli juga barang yang kita butuhkan. Kami
kembali lagi ke area parkiran pasar, maklum setelah berjalan seharian dan belum
juga neh perut dikasih kerjaan buat giling makanan jadi protes deh. Langkah
kaki kami berhenti di warung mie ayam langganan kami kalo biasa ke daerah
malioboro. Dibawah rerimbunan pohon beringin besar dan sejuk, kami menikmati
mie ayam pesanan kami.
Lagi asyiknya menikmati mie ayam dan es jeruk manis
hanget, obrolan kami terhenti, karena aku diberitahu kakakku untuk melihat arah
jam tiga dari tempat kami duduk menikmati makanan. Aku masih belum ngeh dengan
apa yang di tunjuk kakakku, ternyata akhirnya aku tahu. Berbaju biru, tas slempang
warna kuning cerah, menggunakan kerudung abu-abu dan berkacamata. Berjalan
dengan anggun layaknya putri yang baru turun dari kuda kencana. Begitu
anggunnya, sampai-sampai aku lupa memasukkan mie ayam ke mulut atau bagian atas
mulutku. Wajahnya begitu teduh menyejukkan, sepertinya setiap pandangan
wajahnya adalah lantai trotoar jalan Malioboro.
Apa sebenarnya yang kamu pandang? Apa sebenarnya yang
ada dalam penglihatan tunduk wajahmu? Apakah itu salah satu dinding pembatas
sucimu? Cara seorang muslimah, menjaga aurat muslim dan aurat dirinya sendiri?
Dan apa yang sedang ada dalam fikiran setiap langkahmu? Aku ingin tahu dan
apakah aku boleh tahu, maafkan aku.
Aku bingung, mengapa aku begitu mudah mengagumi
seseorang dan terlalu sulit untuk menyanyangi seseorang. Dan perempuan di arah
jam tiga itu termasuk sesuatu yang mampu mengganggu fikiranku. Bukan karena
cantik parasnya, anggun pakaiannya dan lembut pembawaanya. Melainkan sesuatu
yang tersembunyi dalam fikiran dan teduh pandanganya. Semua angan, hayalan dan
pertanyaanku terganggu dengan usikkan tangan kakakku.
Lo mikirin apa, suka? Klo suka suratin kalo nggak sms,
kalo nggak kirim email. Klo masih malu, bilangnya lewat towa di masjid.
“ah iso ae kowe mas”.
Nek kowe seneng, podo, Aku juga.
“oalah ternyata dirimu seneng juga to?”
Buat sementara seh gitu, tapi kayaknya harus tanya pak
polisi dulu, dia bagus nggak buat aku.
“la kok harus tanya polisi?”
Klo nggak tanya polisi, klo kesasar bisa kena tilang
aku. Hehehehe
“hah, garing…………… kriyuk, kriyuk, kriyuk”
Mutung……… angkat no biar nggak mutung. Kwkwkwk
Obrolan itupun harus terhenti karena aku harus
membayar beberapa makanan yang telah kami pesan, dan sepertinya petualangan
kami hari ini harus berakhir disini dan sore ini. Lelah kaki selama berjalan
tadi kini telah terobati, karena perut kami kini telah merasa begitu tenang
karena telah diisi. Sampai di depan perempatan Kantor pos Besar, BI depan taman
seni Malioboro kami terhenti untuk menunggu bis jalur 7.
Tapi bayangan dan siluet dari si empunya tubuh yang
berasal dari arah jam tiga tadi masih menggelayut dalam naungan angan-anganku.
Memang ingin tau, tapi aku tidak tahu siapa dirinya. Dimana rumahnya, sekolah
atau kuliahkah, atau bahkan telah berkeluarga? Namun bayangan siluet tubuh
anggun itu mengusik fikiranku dan meninggalkan jejak pertanyaan dalam perasaan
yang begitu mendalam hingga berharap mata dan hati ini dapat berjumpa lagi.
Perjalanan bis tak terasa begitu pelannya namun serasa
aku sudah berjam-jam di dalamnya. Posisi dudukku pun sudah berpindah
berkali-kali, tapi tetap saja anganku terganggu oleh sosok anggun tadi.
Benarkah aku kagum kepada si pemilik tubuh anggun dengan wajah teduh itu
ataukah kini ku mulai terkena VIRUS MERAH PINK ???
Labels: Jogja Disini Masih Ada Cinta
0 Comments:
Post a Comment
<< Home