Mapai A Way Satapak
Lebaran di tahun ini begitu suram, rumah yang biasanya aku jambangi
untuk menikmati renyahnya kueh kering di hari nan indah ini kini telah
berakhir, kemudian kenangan masa kanak-kanakku beranjak perlahan menelusuri
aliran darah berhenti celingak-celinguk dan masuk perlahan tanpa permisi ke
ubun-ubun. Lalu memporak
porandakan alam nyataku saat ini.
Entah,
perasaan lembut apa ini? Buliran airmata ini kenapa begitu lamban menyusuri
bebukitan pipi yang terjal ini, dengan bebatuan jerawat yang terdapat beberapa
bagian di wajahku.
Grand Ma & Grand Pa, I miss u so much. Nothing word that can I say,
about anything memories, about they’re smile.
“mbesok
kalo gede kamu mau jadi apa?” Tanya kakekku disaat kita sedang duduk bersama di
ruang keluarga
Mau kayak
kakek. Jawabku
“jadi
tentara?” tanyanya lagi
Ya, jadi
tentara itukan gagah. Bisa bantu masyarakat, bela Negara, bawa senjata, naik
pesawat terbang.
“hehehehe…,
senyum indahnya menghiasi bibirnya”. Jangan jadi kayak tentara, biar kakek sama
paman-pamanmu saja yang udah jadi tentara”.
Kenapa
gitu kek? Tanyaku
“tentara
itu jarang ada dirumah, jarang deket sama keluarga, yang terakhir tentara
paling cepet meninggalkan dunia”.
Tapi
kakek nggak tuh, kakek selalu nemenin aku sama sodara-sodara yang laen maenan.
“itu kan
sekarang, dulu kakek jarang dirumah. Jarang bisa berkumpul sama keluarga, itu
waktu ibu dan bibi-bibimu masih kecil”.
Aku belum
ada dong kek? tanyaku lugu.
“hehehe,
jelas kamu belum ada. La wong ibumu aja masih SD, kamu ini kok nanyanya yang
aneh-aneh”.
Ingatan
itu perlahan melebur dalam ingatan indah ini, meski semua kenangan itu hanya
dapat kusimpan dalam file memori yang kini mungkin akan menjadi usang dimakan
oleh lekangnya waktu.
Maafkan
cucumu kek-nek, yang tak pernah ada ketika kalian menjemput hari akhir untuk
dipanggil kesisi-Nya. beberapa sudut rumah ini seakan menarik aku ke masa tujuh tahun yang lalu dimana aku masih senang bercanda, berlari-larian mengelilingi sudut rumah ini dari depan rumah hingga kebelakang dekat ternak kakeku berada dan kolam ikan besar yang biasa aku isi dengan perahu dari pelepah pohon pisang.
Masa itu seperti masih, begitu kental dalam ingatan. semua cerita yang kini masih tersimpan dihati, tak kan mungkin bisa ku lupakan. cara nenek dan kakekku yang selalu memberikan kehangatan kepada keluarga, tetangga bahkan masyarakat desa.
Masa itu seperti masih, begitu kental dalam ingatan. semua cerita yang kini masih tersimpan dihati, tak kan mungkin bisa ku lupakan. cara nenek dan kakekku yang selalu memberikan kehangatan kepada keluarga, tetangga bahkan masyarakat desa.
***
Kakekku adalah seorang warga yang di anggap pantas oleh masyarakatnya untuk memimpin desanya. bukan karena basicnya yang berasal dari militer, tapi memang pembawaan dirinya yang sejak muda sudah banyak digambarkan oleh beberapa orang di pulau jawa sana bahwa suatu saat nanti kakek pasti menjadi orang yang penting dan berpengaruh di daerahnya.
Labels: Jogja Disini Masih Ada Cinta
0 Comments:
Post a Comment
<< Home