Detik, Menit............ Waktu,
Panas terik menyengat kulit hingga
memasuki relung hatinya, entah apa yang membuat hatinya meluap-luap seperti air
mendidih yang bergejolak.
“woi, setan kalo mau ga’ usah
berantem sama Rahmat. Kalo emang lo punya nyali nti pulang les, lo ma gua berantem,
seru Bayu kepadaku”.
“Ga’ bisa gitu, klo lo memang jagoan
berantemnya sama Gua, teriak rahmat padaku, tak mau kalah membela bayu”.
Gua ga’ butuh lo berdua sok jadi
jagoan, sok solider. Klo emang lo dedengkotnya kelas dua, gua tunggu lo berdua
pulang sekolah. Gua ga’ butuh bacot lo orang doang, selorohku.
“ok, siapin aja nyali lo, Belum tau
siapa kita berdua lo?”
Cuma lo berdua mah ga’ gentar Gua,
jawabku.
“tai...!!! rahmat mengumpat kesal,
sekarang aja klo lo emang jagoan, tantangnya”.
“tenang Mat, bayu mencoba
menenangkan. Dia tu Cuma mau liat kita dapet masalah sama BP, jadi lo
sabar-sabarin ja bakal dapet rejeki ngegebukin orang ngotak kaya’ dia”.
Teng.... teng..... teng..... bel
istirahat pun berbunyi
Woi, tai !!! inget, jangan kabur ya
lo ntar. Teriak bayu sambil berlalu meninggalkan kelas Angga.
***
Katanya lo mau berantem sama kelas
dua, bener itu Ga? Tanya Baim padaku.
“tau dari sapa lo?”
Semua anak-anak kelas kita kali Ga,
gua ikutan.
“Ga’ perlu, Cuma anak-anak kaya’ gitu
doang. Sekalian, gua mau maruk sendiri, ngerasain muka ngotak dia orang”.
Wui, giliran berantem ja nggak
ajak-ajak lo Ga.
“Ga, mending lo pulang aja deh. Dia
orang pasti ga’ Cuma berdua ngegebukin lo, temen dia orang kan kelas tiga
juga”.sela Zia menghawatirkan keadaan ku.
Makasih saran lo, tapi maaf klo gua
kudu melewatkan kesenangan ini.
“sok jago lo Ga, cibir Zia padaku”.
Kok lo malah bikin masalah sama gua,
mang lo ga’ suka ma gua juga Zi?
“ya, ga’ gitu Ga, Cuma sok hebat amat
lo berantem sama dia orang berdua. Apa mentang-mentang lo adiknya Dwindles,
memang sejago apa sih Dwindles dulu”?
Udahlah, gua mo ke mushala dulu.
***
Dibarisan depan itu, tak sengaja
matanya menatap wajah yang dia harapkan bisa menyejukan emosinya,yang kini
sedang meluap. Menentramkan jiwa yang ingin selalu menghabisi siapapun yang
menantangnya. Wajah teduh yang terbalut oleh kekhusyu’an. Key, kenapa mata ini
harus terus tersandung dan tersengkur kepada wajahmu. Namun, lidah ini hanya
kelu membisu tanpa urat saraf penggerak.
Dia sudahi pandangan yang sesaat itu,
lalu dia menuju ke tempat wudhu. Disaat sedang berwudhu, emosinya terusik lagi.
Setan, jangan ngabur nti lo. Bisik
Rahmat
“siapa, yang mau ngabur. Awas lo
orang juga kabur”jawab Angga
(sambil menabrakan tubuhnya, kepada
angga) weh, punya nyali juga lo wudhu sendirian. Ejek Bayu pada angga.
“(tak ada jawaban dari angga kali
ini)”
Udah Bay, biarin aja. Banci lo ajakin
ngomong ga’ mungkin punya nyali dia buat jawab omongan lo, apalagi sanggel sama
kita. Ucap Rahmat seraya masuk kedalam mushala.
Perkelahian yang ditunggu-tunggu
olehkupun tak kunjung datang, kemana gerangan dua monyet yang sok jago
petentang-petenteng tadi siang sambil mengumbar keberaniannya dihadapanku?
Tanyaku gelisah dalam hati. Dasar kampret emang Cuma banyak omong doing tu anak
dua, banci kaleng, jagoan kampong, tikus got, telek pitek (umpatku dalam hati).
[dapur
5 sore, depan katel]
Namaku Sangga Triad Khaminari, lahir di
antara keluarga yang berbahagia. Dari dua insan yang dipertemukan lewat hansip
desa suruhan Kakekku. Karena, kakekku adalah salah satu orang penting di kota
tempatku dilahirkan. Meski sebenarnya aku tidak pernah mau disangkut-pautkan
oleh keterpandangan dan kefamousan keluargaku didesa tempatku tinggal.
Konon katanya, bahkan aku ini masih seorang
keturunan darah warana-warni atau ningrat. Walau berita itu sebenarnya masih
simpang siur kesana kemari. Namun, aku tidak pernah mernghiraukan keningratan
diriku. Bahkan, banyak dari temanku yang tidak tau apakah aku ini ningrat atau
hanya rakyat jelata. Karena tidak pernah aku beri tau mereka semua. Tapi aku
bangga dengan diriku ada apanya, sampai saat ini.
Udah lo tinggi-tinggin badan lo, tu pendekin
lagi. Good job itu kata temen lo. hehehehehe… shit, semua tulis-semua tulis.
Shiuuuurrrkkkk surk…… seruput bunyinya.dah-dah lo kan belum dapet inspirasi,bu
anak ibu cacingan yo bu yo? (cerocos adik kecilku di dalam telphon).
Lamunan itu pun kembali ketempat yang
seharusnya. Setelah suara ibu yang ku rindukan menegurku.
Ga kamu kapan pulang? Tanya ibuku.
“belum jelas bu, mungkin nanti akhir bulan
setelah semua masalah tentang semesteran berakhir”.
Ya udah hati-hati disana, jaga diri
baik-baik, jangan lupa belajar. Wejangan ibuku begitu mengalir deras seperti
arus air terjun di pegunungan.
“ia bu, jawabku takdim”.
Kalo semua udah beres, pulang cepet ya?harap
ibuku dari seberang telphon yang
menggantungkan sebuah asa.
“insyaallah bu, udah dulu ya bu. Masakan ku
gosong nih ditinggal telephonan”.
Ya udah, assalamualaikum.
“wa’alaikumsalam”.
***
Pagi
disekolah nggak ada yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Akupun tidak ingat
bahwa kemarin aku diajak berkelahi dengan dua orang yang merasa mereka
jagoannya sekolahan. Dengan santai akupun menjalani hari ini tanpa perasaan
apapun sampai Zia memberi tahuku kalo aku harus pergi, karena ada gerombolan
yang kemarin menantangku adu duel.
Ga, kayak
nya lo kudu pergi dulu deh. Kemana gitu, apa kalo nggak lo pulang aja. Cerocos
Zia panik.
”ada pa
sih Zi?” tanyaku nyantai,
Ada
gerombolanya Rahmat ma Bayu. Jawab Zia akhirnya, dengan lancar.
”biarin,
gua tungguin disini”. Jawabku nyantai sambil diselingi senyum kecil.
Lo sok
berani banget sih Ga, ejek Zia padaku.
”tenang
aja Ga kalo ada apa-apa kita ribut bareng”. Samber Dedi, Bahar dan Sentir
bersamaan, yang sedari tadi bersamaku.
Akhirnya
kelompok yang kami bicarakanpun muncul dihadapan kami.
Ngga kita
mo lo ikut kita, Ajak Rahmat dan Bayu bersamaan.
”kemana?”
jawabku tenang.
Lo pada
mo ajak Angga kemana? Timpal Dedi dengan sedikit logat Betawinya
”gua
pinjem Angganya bentar kata Rama sedikit santai”.
Ya udah,
ayo ajakku pada dua orang yang kemarin menantangku.
”woi,
inget jangan sampe lo apa-apain temen gua.” ancam Bahar lantang pada mereka.
Dah lo
tenang aja Har, gua pasti gak apa-apa kok.
Setelah
menjauh dan aku diajak ke belakang kelas di pojok sekolahan, di depan kolam
ikan biakan dari lab, kami berhenti. Aku masih diam aja, menunggu apa yang akan
mereka lakukan,
Apa mau
lo orang, tanyaku.
”gini
Ngga, bayu menjawab pertanyaanku dengan sedikit ragu”.
Kita mau
minta maaf sama lo Ngga, kemaren kita udah sok-sok nantangin lo berantem. Kita
nggak tau kalo lo.....
”klo gua
apa?” Tanyaku nggak mengerti maksud omongan Rahmat.
Kalo lo
tuh adiknya Andek.
”emang lo
tau Andek kakak gua, lo tau darimana Andek kakak gua?” tanyaku heran.
Dari mas
Sanny, dia bilang gua berdua nggak mungkin menang berantem sama lo. Lo tuh
katanya dulu pernah bareng sama Reyga, Dwek sama Andek kakak lo ngumpulnya.
”gua
nggak terima kalo lo orang, nggak jadi berantem sama gua gara-gara tau kalo gua
adeknya Andek”.
Pokoknya
kita minta maaf, kita kemaren Cuma bercanda. Sori ya Ngga, sori banget sekarang
kita temenan deh.
”ya dah
deh, gua juga nggak mau ngotorin tangan gua sama daki lo orang berdua”.
Makasih
ya Ngga, ucap mereka berdua. Sambil berlalu meninggalkan aku yang masih
terbengong dengan keadaan barusan.
***
Setelah
kejadian itu, namaku semakin tenar di kalangan lingkungan sekolah. Sebagai
seseorang yang disegani dan ditakuti, tapi itu tidak membuat Keyrina menanggapi berita tentangku. Tapi semua itupun tak
menjadikanku bangga, disenangi dan dihormati hanya karena menjadi seorang yang
bengal tak membuatku lantas menjadi orang yang pintar bukan? Tapi malah semakin
menjadi sorotan dari guru-guru, terutama para guru yang selalu sibuk didalam
ruangan bernama ruang BP (Badan Penyuluhan).
Bahkan beberapa kali namaku selalu menjadi daftar operation dari para
guru BP. Bukan karena kelakuanku yang tidak baik atau aku yang sering bikin
ulah dan keonaran, melainkan keseringanku membuat diriku izin dan memenuhi
catatan absen guru piket dengan tanda I (izin) memenuhi kolom namaku tiap
harinya. Entah itu izin sakit, ambil wesel, kegiatan keluarga, ekskul dan masih
banyak jenis izin lainnya yang sering aku gunakan jika aku sedang malas
bersekolah. Karena memang sebenarnya aku malas sekali sekolah, tercatat dalam
satu minggu jadwal kegiatan belajar mengajar disekolah, mungkin hanya dua hari
aku masuk. Hari rabu dan sabtu, dua hari ini adalah hari dimana mata
pelajarannya semua favoritku.
Tak terhitung sudah beberapa kali juga kakakku Andek dipanggil guru bp
untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku karena dia sebagai waliku,
menggantikan peran kedua orangtuaku. Masalahnya sepele, Cuma karena aku sering
izin dan hanya setor muka saja, layaknya para pejabat pemerintahan. Hadir hanya
beberapa menit hanya sekedar untuk mengisi absen kehadiran biar dapat gaji
bulanan.
Siang ini didalam GSG begitu ramai, karena akan diadakan pertandingan
porseni antara kelas se-sekolahan. Sudah terlihat banyak anak-anak berkumpul
dari kelas yang berbeda, mereka semua antusias mengikuti acara tahunan ini yang
diselenggarakan oleh departemen seni dan olahraga dari OSIS. Ada yang sedang
sibuk menyamakan suara, mengakurkan koreografi tari, starching untuk senam
atletik, ada juga yang asyik mengobrol membicarakan cewek-cewek cantik, atau
sekedar mejeng mencari perhatian, dan banyak juga kutu buku yang datang dengan
wajah cengoh mereka, memperhatikan keramaian yang mungkin didalam dunia mereka
yang ada hanya dunia logika dan berfikir.
Sedang asyiknya berebut bola basket diriku dikejutkan dengan suara yang
amat ku kenal, suara itu menjerit menyeberangi ruangan GSG yang luas dan penuh
sesak dengan berjubelnya masyarakat sekolahan didalamnya.
“Angga……!!!!”
[ku tengokkan wajahku dengan sedikit mengernyitkan mata]
“sini kamu”. Panggil suara itu dengan sedikit nada emosi
[ternyata yang memanggilku adalah wali kelas baruku] akupun terpaksa
mendatangi sisumber suara, dengan sedikit kebingungan karena aku tidak tau akan
dimarahi karena membuat kesalahan apa aku.
“ada pa bu? Tanyaku dengan menggaruk kepala yang tidak gatal dan
mengerutkan jidat karena bingung apa salahku? Sampai si ibu marah-marah.
Kamu kok malah main basket, bukannya kamu harus ikut pertandingan
melukis di kecamatan mewakili sekolahan?
“kan katanya Fuad bu? Diriku memastikan
Dua orang Fuad sama kamu, jawabnya tegas.
“saya juga bu? Masa saya bu, gimana sama bsaketnya? Hari ini kan kelas
kita lawan kelas IPS 1, apa lagi nggak ada yang mau tanding anak-anaknya bu,
semuanya pada doyan maen bola kaki. Jawabku meyakinkan bu Yeti.
Udah tinggal aja, orang sudah didaftarin kemarin dengan nama Fuad sama
kamu. Basket biar Guntur nanti yang ibu suruh urus.
“tapi bu”, jawabku sedikit ogah-ogahan.
Pokoknya kamu berangkat, kalo enggak kamu ibu skorsing, nggak boleh ikut
semua kegiatan porseni dan nggak ikut ujian caturwulan, gimana? Ancam bu Yeti.
“waduh kok parah gitu bu, ya udah deh aku berangkat”.
Nah gitu, ucap bu Yeti dengan sunggingan senyum dibibirnya karena merasa
menang dengan ancamannya.
Akupun berlalu dari percakapan dengan bu Yeti, menghampiri gerombolan
kelasku yang sedang pemanasan, menanti pertandingan berikutnya kelas kami
melawan kelas III IPS 1. Aku masih bingung akan bilang apa kepada
teman-temanku, aku takut mengecewakan mereka kalo aku tidak bisa bertanding
hari ini, walaupun sebenarnya tanpaku pun mereka bisa bertanding, tapi lawannya
adalah anak IPS 1 yang tahun lalu menjadi juara basket satu sekolahan.
Ada pa Ga? tanya beberapa temanku yang melihat kedatanganku.
“nggak ada apa-apa”
La kok kamu dipanggil bu Yeti, emang ada masalah apa to? Tanya mereka
lagi dengan nada penasaran.
“anu, aku disuruh meninggalkan pertandingan basket untuk hari ini”.
Kenapa, kamu bikin ulah apa lagi to? Tanya Dedi sedikit menyudutkanku.
“enak aja bikin ulah, emang mukaku ini ada tulisan tukang bikin ulah
gitu? Jawabku sambil senyam-senyum cengengesan.
Sudah banyak yang tau kalo mukamu itu ada papan tulis, bertuliskan Angga
tukang kulak ulah, kwkwkwkwkwk. Tawa anak-anak beramai-ramai, menertawai
candaan Bogel.
“udah-udah, aku harus pergi ke kecamatan buat ikut acara melukis
mewakili sekolah, sama si Fuad”.
O, sama Fuad Bawazir to kesananya? Dedi bertanya meyakinkan bahwa aku
memang harus pergi.
“iya, do’ain aku ya, biar dapet piala wong ayu. Hehehehe” candaku
Yo………, seng ati-ati ya Ga, kamu harus gambar yang bagus lo disana nanti.
Disini serahin sama kita-kita, biar kita kalahin anak-anak IPS 1 tahun ini.
Jawab mereka serempak.
Kini badan ini pun telah menjauh dari kerumunan hendak kembali ke kelas
untuk mempersiapkan semua yang aku perlukan di perlombaan kecamatan. Tapi, aku
masih bingung dengan apa saja yang harus aku bawa karena semua ini terlalu
mendadak, sedang alat-alat untuk melukis seperti kuas dan pewarna aku nggak
punya gimana mau ikut lomba? Gumamku dalam hati. Sesampainya dikelas aku
bertemu dengan Fuad, karena aku ingin tahu apa saja persyaratan peserta maka
aku menghampiri Fuad yang sedang asyik ngobrol dengan temanku Rukmini.
Ad, ente yang bakal pergi ikut lomba melukis di kecamatan?
“ya ialah karo rika, ngono jarene bu guru”.
Terus yang daftarin aku jadi ikutan juga sapa?
Yah embuh, inyong ge ora ngarti karo kapengene bu guru. La kapriben
cuba, inyong kuduna mah saiki nunudan padus.
“ya pada bae karo inyong, inyong kuduna tanding basket saiki”. Timpalku dengan
mengikuti logat Fuad yang sedikit ke ngapak-ngapakan.
Kapriben seh rika mah malah meluni gayana inyong gek ngomong.
“lah embuh lah, jenenge geh naluri hati, ra bisa di tahan. Terus
kapriweh persyaratan pesertane, inyong durung nyiapna apa-apa?” Tanyaku lagi.
Ora kudu nyiapna apa-apa jare pak Tikno, sing penting inyong karo rika
menyang kecamatan melu lomba wes ngana baen. Jarene pak Tikno maneh, kabeh sek
jadi persyaratan wis di siapna ka sekolahan, ngana.
“o, yaw is nek ngana. Inyong balik maring kelas maning arep nyiapna tas
kanggo nang kecamatan”.
***
Hehehe………, hatiku bergumam dan berbahagia sendiri. Detak jantung ini tak
bisa kuperlambat, karena detaknya yang perlahan tapi pasti dan semakin
menjadi-jadi. Keringat perlahan keluar dari pori-pori, juga tak bisa aku
singkirkan dari penglihatan banyak orang yang sedang bersamaku saat ini. Tubuh
ini mulai dirasuki unsur-unsur kimia bahagia yang dipengaruhi oleh hormone
adrenalin. Semua ini terjadi karena adanya satu orang diantara kami yang akan
berangkat ke kecamatan untuk mengikuti lomba.
Ternyata didalam angkot yang mengantarkan kami ke kecamatan ini tak
hanya aku dan Fuad yang akan ikut lomba melukis saja. Melainkan juga masih ada
beberapa siswa/i yang mengikuti lomba cerdas cermat, pidato, deklamasi dan
beberapa cabang olah raga. Salah satu anggota cerdas cermat terdapat Keyrina.
Mungkin karena sosoknya itulah maka fungsi organ tubuhku sekarang menjadi
anomaly, fikiran dan pandanganku menjadi tidak focus. Sesekali aku melihat
keluar karena posisi dudukku berada di dekat pintu penumpang, terkadang aku
melihat lantai mobil, atau mencoba melihat langit-langit dengan sedikit
mencuri-curi penglihatan kearahnya.
Sampai perasaan ini menjadi tak keruan setelah celetukan iseng yang
keluar dari mulut Alta, salah satu teman dekat Zia yang juga teman dari
Keyrina.
“ehm ehm ehm, ci… ciieee… ada yang senag neh”. Ucapnya sambil memandang
kearah jendela angkot.
[semua orang masih diam saja dengan apa yang di ucapkannya]
“cie… cie… cie… kok malah diem-dieman seh, kalo nggak ada ja katanya
suka nanyain? Celetuknya lagi.
[sampai akhirnya semua yang berada di dalam sadar] hehehehe, senyum yang
bermakna memojokkanku.
Iya neh, ngobrol dong. Kata salah satu temanku sambil mengernyitkan mata
kearahku.
[aku masih diam dengan kebodohanku, ataukah kenervousanku]
Ah nggak seru ah kalo Cuma diem-dieman, celetuk Alta lagi. Sambil
menyenggol bahu Key dengan sikutnya yang duduk disebelahnya.
[Key diam juga dengan kebingungannya] karena dia tidak tahu yang
dimaksud Alta.
Tawa renyah di dalam angkot semakin jadi karena banyolan-banyolan
anak-anak yang meledek ketidak beranianku, namun tawa itu segera berhenti
setelah teguran pak Tikno.
Akhirnya, penderitaan ini pun berlalu, gumamku. Entah apa yang akan
terjadi bila pak Tikno tidak mengehentikan banyolan anak-anak di dalam angkot
tadi, mungkin aku membutuhkan berlapis topeng untuk menutupi biru legam mukaku
karena pukulan malu yang kurasakan. Atau aku akan melakukan terjun bebas dari
atas angkot demi bebas dari penyiksaan batin dari ketidak beranianku ini. Heh
aku begitu lelah dengan perasaan yang tak bisa aku ungkapkan ini, lebih baik
aku tak pernah sombong klo Key tidak begitu special dulu waktu pertama kali aku
diberi tahu kakakku. Ternyata aku termakan oleh sikap angkuh hatiku dan omonganku
sendiri.
Tapi semua itu tak meyurutkan niatku untuk bisa berdekatan denganya,
mengenalnya, berbagi pengetahuan atau sekedar memahami apa maksud bahasa non
verbalnya. Dengan kediaman dan ketidak beranianku ini biarkan aku akan tetap
berdiri dalam sosok ini, disudut sunyi yang hanya aku yang tau dan merasakan
cerita dari penantian hati yang tak kunjung aku ungkapkan dimana ujung
perjalanan kebisuan ini. Mungkin semua ini akan terbongkar dari penjara sunyi
perasaanku sendiri oleh penelusuran detektif detik, menit………………………… waktu. Aku
akan menunggu semua itu pada saatnya dimana dimasa yang telah ditetapkan indah
oleh-Nya.
Perasaan ini kembali normal setelah aku bisa menenangkan fungsi saraf
yang beberapa waktu tadi sedikit ngaco. Aku tak perlu memikirkan semua itu
dengan sungguh, saat ini yang harus aku fikirkan adalah aku harus
berkonsentrasi pada lombaku. Aku akan melukis apa ya, gumamku pada diri, ah
mungkin aku melukis Pangeran Diponegoro ajalah.
***
Perjalanan pulang ini kini terasa tidak seramai tadi, tapi cukup tenang
buatku, ksrena setelah lomba aku pulang sendiri. Fuad tadi pamit denganku kalo
setelah lomba dia ingin main sebentar ke syalan eh salah swalayan. Ada sesuatu
yang ingin dicari tuturnya, sebuah buku bacaan yang menurutnya aku perlu buku
itu untuk mempertajam ke sungguhan seni menggambarku. Diapun berjanji suatu
saat akan berbagi isi buku yang telah dia baca atau mungkin akan meminjamkan
bukunya padaku. Sedangkan Alta dan teman-temanku yang lain aku tidak tau
keberadaanya, karena memang kami lomba pada ruangan yang berbeda. Tapi
menurutku merekapun pasti telah menyelesaikan perlombaannya.
Disaat beberapa ratus meter dari tempatku dan Fuad berpisah, aku
menemukan sosok seorang Keyrina sedang berdiri di pinggir trotoar di perempatan
sedang menunggu angkot sepertinya? Tapi aku belum memiliki keberanian untuk
menyapa ataupun mendekatinya. Ternyata diapun memandang ke arahku, dan secara
sengaja pandangan ini kami pertemukan. Dia pun memanggilku dengan bertanya dari
kejauhan.
Udah beres lombanya? Tanyanya padaku dengan sedikit berteriak, karena
posisi kami yang berada di pinggir jalan ramai. Akupun mencoba mendekat, supaya
pembicaraan ini tidak begitu mengeluarkan tenaga, karena harus konsentrasi memilah
satu-satu yang mana suara kendaraan dan yang mana sebuah pertanyaan.
Udah, jawabku sembari mendekat. Kamu? Tanyaku balik bertanya. “Aku juga
udah barusan, gimana hasilnya?” hasil apa?tanyaku bingung. “ya hasil lombanya
lah”. Masih minggu depan hasil lombanya bakal diumumin kata panitianya, kalo
cerdas cermatnya gimana, menang nggak? Aku kembali menanyai Key. “Cuma dapet
juara dua, soalnya kalah sama SMA 1, selisih 30 poin”. Bagus dong, selamat yah.
“iyah makasih, aku do’ain lomba melukisnya juga sekolah kita menang”. Amiin,
jawabku. “abis ini mau kemana? Pulang kesekolah apa langsung pulang ke kosan?”
kayaknya sih aku langsung kesekolah deh, soalnya pingin liat kelasku ngalahin
3IPS 1, jawabku cepat. “gitu ya, aku nggak bisa pulang kesekolah, soalnya tadi
disuruh kerumah kakak di Gentan ada acara keluarga”. La terus udah ijin, nti
diabsen lo? “tadi aku udah bilang sama pak Tikno, kalo aku nggak bisa
ngelanjutin belajar disekolah, lagian sekarang kan lagi porseni jadi nggak
mungkin ada pelajaran”. Gitu ya, ya udah deh, ati-ati di jalan ya, salam buat
keluarga. “iya makasih, eh aku duluan yah, angkotnya udah ada tuh”. Ia ati-ati.
“asalamualaikum, ucapnya sambil masuk kedalam angkot”. Wa’alaikumsalam, jawabku
sambil memandangi dirinya yang dibawa angkot berlalu.
Perjalanan dari tempatku berbincang sampai kesekolahan adalah kurang
lebih satu setengah kilo. Semua itu tidak terasa jauh, bahkan amat terasa
enteng sekali, mungkin karena kebahagiaan yang di akibatkan dari percakapan
hati ini dengan hati yang diharapkannya. Langkah kakiku ku percepat, takut aku
tidak bias menyaksikan pertandingan basket antar kelas yang sekarang bertanding
adalah kelasku. Mungkin pertandingannya telah memasuki quarter ke empat, itu
juga bila permainan kelasku mampu mengimbangi bahkan mengungguli kelas IPS.
Kelasku adalah tim kuda hitam, atau kelas dengan peredikat yang tidak di
unggulkan pada acara porseni sekarang. Bukan hanya karena kami adalah anak
kelas satu, tetapi juga banyak diantara siswa di kelasku yang lebih menyukai
sepak bola dari pada basket. Maka dari itu, banyak siwa berpendapat bahwa
kelasku tidak akan bisa mengalahkan kelas IPS yang tahun kemarin adalah juara
basket satu sekolah. Menurut penghuni lama sekolahan kelas IPS 1 adalah
juaranya basket tiap tahun, dan siapa saja yang masuk kedalam jurusan IPS apalagi
IPS 1, mereka harus mempertahankan tradisi juara.
Salah satu andalan basket IPS 1 tahun lalu
adalah kakakku Andek. Dia bersama dengan teman-temannya, selalu di unggulkan
disetiap tournament tidak hanya dalam sekolah melainkan diluar sekolahan juga.
Memang personil basket IPS 1 pada zaman kakakku aku tau semua, ada Dwek
berbadan tegap seperti tukang pukul, posisinya adalah guard.
Ada Wisnu
berpostur sedang namun dengan badan yang berisi seperti seorang kuli panggul,
posisinya adalah bloker. Ada Syarif perawakannya sedikit pendek dari yang lain
tapi standarnya cowok Indonesia pada umumnya, memiliki kemampuan dribel dan
passing bola yang baik, juga mampu menempatkan posisi bola ke tempat strategis
dan orang yang pas, posisinya adalah center. Terakhir adalah kakakku, idolanya
cewek-cewek dengan postur tubuh yang hampir sama dengan Syarif tapi lebih
beberapa senti, posisinya adalah posisi penting dalam sebuah permainan basket
juga posisi yang selalu di idam-idamkan atlet basket pada umumnya, yaitu point
guard atau sering dikenal dengan tukang memasukkan bola kedalam ring.
Sepertinya hal itulah
yang menyebabkan dampak ketenaranku, karena popularitas kakakku yang selalu di
elu-elukan satu sekolahan, bukan di gua-guakan yah. Sambil berjalan aku sering
melayangkan pandang kearah tangga-tangga alam yang terbentuk dari sawah hasil
sentuhan seni para petani, begitu indah dan asri terasa di dalam kalbu,
sepertinya aku terlalu sering melewatkan pemandangan ini ketika pulang sekolah.
Mungkin karena terlalu asyik bercakap dengan teman-temanku seperjalanan pulang.
Dibawah jalan besar yang sedang aku lalui terdapat sungai yang lumayan besar,
anakan sungai dari sungai Mboyong. Salah satu sungai yang berawal dari
pegunungan lereng Merapi. Airnya terlihat begitu bening, arusnya tenang dan
mampu membuat tenang perasaan setiap insane yang memandangnya.
***
Dari luar gerbang
sekolahan terdengar riuh rendah suara sorak-sorai dari penonton. Aku bertemu
beberapa teman di depan pintu gerbang dan bertanya siapa yang sedang bertanding
sekarang. Beberapa orang yang kutemui mengatakan sekarang pertandingan kelas 1A
dengan IPS 1, pertandinganya terlalu seru untuk dilewatkan, dari tadi
pertandingan di antara keduanya sangat sengit. Saling kejar mengejar pemain dan
saling kejar-kejaran di dalam lapangan. Loh kok malah main kejar-kejaran ya?
Maaf salah maksud yang dimaksud teman-temanku tadi adalah saling kejar-kejaran
angka dalam memperebutkan kemenangan.
Baru saja aku ingin
berlari ke GSG dimana permainan basket berlangsung, langkahku dihentikan oleh
suara yang keluar dari jendela kantor guru, ternyata suara bu yeti yang
kepalanya terjepit jendela kantor guru. Eh salah, maksudnya kepalanya menyembul
diantara jendela di kantor guru yang terbuka.
Ga, temui ibu di
kantor, ibu mau tanya gimana tadi hasil lombanya di kecamatan.
[ku anggukan kepala
tanda setuju]. Sesampainya di dalam kantor.
Lo kok kamu pulang
sendiri, mana rombongan yang lain?
“pada mencar
sendiri-sendiri bu, tapi si Fuad tadi mau ke Swalayan dulu”. Jawabku dengan
mengibaskan baju yang sedikit gerah karena cuaca hari ini, dan perjalanan
panjangku.
Terus gimana hasil
lombanya?
“masih beberapa
minggu lagi di umumkan bu”.
Gimana, lawanya
susah-susah nggak?
“sepertinya
gambaranya banyak yang bagus-bagus bu”
Kamu sama Fuad
gambarnya sesuai tema nggak, tadi?
“waduh, emang tadi
make tema juga ya bu gambarnya?” tanyaku balik
Gimana seh, emang
nggak dikasih tau sama panitiannya?
“nggak tau bu,
tau-tau dikasih no peserta sama kanfas yang mau dipake gambar dah gitu”.
Ya udah nggak
apa-apa, walaupun ibu ngerasa kita nggak mungkin menang.
“kalo pake tema
sepertinya sih memang susah untuk menang bu, kan kita berdua nggak mengikuti
tema yang di berlakukan panitia”.
Terus sekarang kamu
mau kemana?
“ke aula bu”.
Tolong kasih tau sama
teman-teman sekelasmu, kalo hari ini nggak ada peljaran. Tapi, nanti jam tiga
sore ada ekskul PHP (pengolahan hasil pertanian) jangan lupa, nti pak Ujangnya
bias marah sama ibu kalo kyak minggu kemarin nggak ada yang hadir.
“insyaallah bu”.
Jawabku sambil berlalu meninggalkan ruang guru, menuju tempat pertama aku
harapkan saat dating kesekolahan setelah dari kecamatan.
***
Malam ini duduk-duduk
di depan teras kamar kos ayik banget, dapet suguhan view gunung Merapi dengan
kembang berwarna merah menyala yang meluncur di lereng-lerengnya. Lava-lava
merah nan membara itu keluar dari puncak gunung merapi layaknya jerawat matang
yang pecah di tebing-tebing pipi wajah para remaja yang sedang jatuh cinta. Sekarang
Merapi sedang bernostalgila dengan mengeluarkan lava panas yang terlihat indah
dimalam dan subuh hari. Tapi hebatnya lava itu tidak pernah turun melalui
jalanan kota, atau bagian selatan dari gunung merapi. Melainkan mengalir
menyusuri timur dan barat lereng merapi yaitu, melampaui garis alur sungai
kuning dan mboyong.
Menurut cerita kakek
dan nenek buyutku terdahulu, itu semua bisa terjadi karena perjanjian sang Sri
Sultan Hamengkubuono dengan gunung merapi yang dulunya adalah tempat bertapa
dan meyendirinya Sri Sultan dalam merenungi keadaan Negaranya. Sehingga apabila
ada letusan dari gunung merepi yang sedikit menggeliat dan mau aktif, rakyat di
seluruh jogja di haruskan tidur dengan membujur, atau mengarah dan melintang
kebagian barat dan timur. Dengan maksud nantinya lari si lava panas itu akan
terbendung secara gaib dan meluncur dari sisi-sisi bagian barat dan timur dari
gunung berapi.
Hatiku diliputi rasa
bahagia karena percakapan tadi siang dengan Keyrina dan yang lebih lagi adalah
kemenangan team basket kelasku dengan kemenangan tipis yang diperoleh dari
kelas 3 IPS 1, itu juga di menit-menit crusial yaitu di tambahan quarter ke
lima. Sepertinya juara satu liga basket se-sekolahan sudah di depan mata,
karena kami hanya harus berhadapan dengan kelas 2C di final. Mengingat, kelas
itu adalah kelasnya Bayu dan Rahmat, mereka kan mudah sekali dipancing
amarahnya, sehingga mudah juga untuk mencuri angka dalam permainan apabila kita
mampu memainkan emosi permainan sebuah team yang sedang kita hadapi.
Satu dari sekian
kemungkinan bahwa team basket kelasku dapat memenagkan liga basket porseni
sekolahan. Itu semua didukung oleh permainan solid dari rekan-rekanku yang tadi
bermain di pertandingan crusial melawan juara bertahan. Tidak hanya itu, team
kami juga memiliki pecirit, eh salah ketik, yang benar sepirit. Sepirit yang kami
dapat dari hasil pertandingan tadi siang. Suasana mala mini semakin indah
dengan dukungan dari hujan gerimis tirik-tirik, yang membuat pemandangan lava
di lereng-lereng merapi semakin terlihat skuel yang jelas.
***
Monitor itu masih
termangu menanti si penjelajah membuka shortcut yang terpampang di dinding
desktop layar utama, cursor masih berputar-putar berpindah tempat dengan
merifresh, dibantu dengan dua jarinya yang menekan tombol F5, cara manual
keyboard merefresh computer atau alat sejenisnya yang berhubungan dengan PC.
Matanya mencari
shortcut berlambangkan internet explorer di antara baris-baris shortcut game
yang berjejer rapi mendampinginya. Dengan cepat dia klik dua kali. Setelah
sebelumnya dia mengaktifkan server network conections, dan menyesuaikan
frekuensi networking yang akan digunakan. Setelah Nampak
tampilan home google pada tab di depan matanya. Dengan lincah dua jari kirinya
menekan ctrl + T untuk membuka
halaman baru, dia arahkan cursor itu meyusuri kolom alamat web, diketiknya
situs yahoo. Dengan sedikit tertatih-tatih dan begitu lama karena loading yang
berlangsung lama dipengaruhi oleh kapasitas Mbps pada frekuensinya, akhirnya
halaman yang diinginkan muncul juga.
Di pilihnya sign in
pada kolom halaman utama dari yahoo, sebelum memasuki situs kepemilikan email.
Lengkap dia tuliskan email addres dan password sesuai dengan pertama kali dia
mendaftar sebagai pelanggan yahoo. Dengan sabar dia menunggu keluar halaman
emailnya.
Aha, akhirnya halaman
yang di tunggu pun muncul dengan sedikit tersendat. Matanya langsung
tertuju kepada bagian kiri atas dari kolom yang sedang dihadapinya sekarang.
Kini kursor itu mengklik bagian tulisan yang bergaris bawah Email, muncul
dengan jelas beberpa bagian dari email, terbaca 165 pesan belum terbaca, ternyata
beberapa kabar dari group pertemanan di internet yang dia ikuti. Ada satu pesan
yang menarik perhatiannya, pesan yang berasal dari C:\>
net send 127.0.0.1 test.
Dengan sabar dia klik satu pesan itu, dengan tidak menghiraukan beberapa
pesan lainnya. Apasih yang dikirim dia? Oh ia, kenapa dia bias tau alamat
emailku, wah jangan-jangan dia membajak hot mailku nih. Ternyata kamu berhasil
menemukanku duhai sang cyber misterius, kamu sebanarnya sama dengan jenisku
atau dari lawan jenisku sih? Sok misterius banget deh, tapi aku rasa kamu ini
adalah sosok jenisku, karena keterbukaan dan kedewasaan yang selama ini kita
bagi dalam dunia keterasingan ini, gumamnya dalam tawa.
Matanya perlahan tapi pasti menuruni semua tulisan yang tertera dalam
email kiriman seseorang yang menurutnya misterius. Karena selama berbulan-bulan
ini mereka hanya terjalin keakraban dan terhubung dari ruang keterasingan dan ketidak tahuan satu sama lain. Meski
sebenarnya diantara mereka ada satu kecocokan dan kenyamanan yang hakiki. Kenyamanan
yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang berani berada pada dunia hayal dan
keterasingan dalam dimensi jaring nirkabel.
***
“Life is Choice” demikian klaim salah satu filsuf, nggak heran kalo kita sering di
hadapkan dengan keputusan untuk memilih, cepat atau lambat. Kita yang memilih
atau kita menjadi orang yang berada dalam sebuah pilihan dan tidak memiliki hak
proreogatif untuk bisa menggunakan takdir kita sebagai manusia yang telah di
takdirkan sebagai ciptaan yang selalu memilih dan tidak pernah puas dengan apa
yang telah dipilihkan buat kita.
Mungkin kita tidak pernah menyadari keputusan-keputusan atau pilihan
yang amat sulit di pilih, merupakan hasil yang menentukan bagi si penentu
pemilihan. Jika laboratorium Thomas Alva Edison tidak terbakar, mungkin
sekarang kita tidak akan merasakan terangnya dunia di malam hari. Galilei
Galileo pun harus mendapat hukuman mati atas pernyataanya bahwa bumi itu bulat.
Bahkan, para nabi terutama nabi terakhir Muhammad SAW, harus bermandikan darah
dan di anggap gila ketika mengajarkan sebuah agama pelengkap dari beberapa
agama yang telah diturunkan terlebih dahulu kedunia. Itulah dampak dari sebuah
pilihan, namun hasilnya bila dengan keyakinan kita, dapat menghasilkan sesuatu
yang berarti bagi perubahan disekitar kita.
Bagi beberapa tokoh diatas, seperti terkutip dalam tulisan Peter F.
Drucker, “lebih penting melakukan yang benar daripada melakukan yang benar.
Karena sebenarnya “ kemenangan terbesar kita bukanlah karena kita tidak pernah
jatuh, melainkan kita selalu bisa bangkit disaat kita terjatuh, seperti yang
terkutip dari ucapan Confius. Apakah hari ini atau kemarin bahkan nanti disuatu
pagi kita telah berani untuk mengambil keputusan yang akan mengubah hidup kita
apakah lebih berwarna atau bahkan akan suram. Layaknya jawaban yang kita
harapkan dari perjuangan menjawab semua soal-soal ujian, atau interview pada
saat lamaran kerja, bahkan sesuatu kesempatan terkecil seperti mengatakan kamu
menyukai seseorang? Karena semua itu tak mungkin
kita dapatkan ketika kita menjadi yang tidak memiliki hak atas pilihan.
Karena sebenarnya apa yang terjadi di depan dan belakang kita adalah
merupakan persoalan kecil dibandingkan apa yang ada di dalam diri kita,
demikian Oliver Holmes menuturkan pendapatnya. Camkan dan beri argument atas
tulisan ini karena itu adalah pilihan buat kamu sebagai seseorang teman berbagi
di dunia yang kini sudah mulai terasa pengap oleh para pendatang baru yang
masih berusia belia. Yang aku takutkan mereka
akan merasa nyaman dan terganggu perkembangannya dari lingkungan sekitar dan
teman-teman kecilnya, karena berada dalam dunia keterasingan.
<sender…> GUGUS NAHL
SATRIA
Aku masih terkungkung
dalam dimensi kebasa-basian, mungkin nanti pilihan itu akan terucap
<send>
Labels: Jogja Disini Masih Ada Cinta
0 Comments:
Post a Comment
<< Home