A Words For Deskripting What will I Do
Apaan Ga ? Tanya Heru (want to
know aj)
Terdampar lagi
tubuhnya di depan layar computer, entah apa yang sedang dia fikirkan. Ingin
rasanya mengerti apa yang ada dalam benaknya, tubuh itu masih saja diam dengan
sejuta angan menggelayuti ruang imaginya. Tangannya seakan ragu untuk melakukan
kegiatan rutinnya, menekan-nekan tuts keyboard berjam-jam, bahkan berhari-hari,
hingga dia melupakan sjuta kejadian diluaran sana. Teramat indah mengamati kekosongan fikiran sosok itu, menerobos ruang-ruang
sulit dalam gambaran imajinasinya, mentafsirkan semua keluh kesah yang telah
membebani hidupnya beberapa hari kemarin. Tnggelam bersama menyelami lautan
bingung yang menjadi sepi oleh ketidak mengertian atas apa yang telah terjadi
dalam hidup, memaknai perjalanan panjang yang mungkin akanterhenti oleh ajal
saja.
Matanya seakan
menempel tepat di depan layar dan tak mau berpindah pandangan, ingin mengerti
apa yang sedang dia baca dan dia rasakan tapi hati ini terlalu kuat menolak apa
yang sedang menjadi keasyikan dari matanya. Semakin dilihat gerak tubuhnya yang
dengan tanpa dia sadari membuat lekukan-lekukan lucu. Kerutan dahinya entah
karena mengerti atau bingung, bagian bibirnya yang selalu dia doerkan dan
sesekali di gigitnya pelan, atau tangannya yang tak hentinya memilin rambutnya
yang terurai entah sebagai poni baginya atau godek bagi laki-laki, tapi dia
terlihat semakin indah, dengan gaya yakujanya yang selalu menghiasi
hari-harinya.
Eits, ternyata dia
sadar sedari tadi aku perhatikan. Mukanya yang terlalu lugu menoleh kearahku
dengan mengernyitkan satu alis matanya, seakan bertanya apa yang sedang aku
pertanyakan atas kediamannya di depan layar computer jinjing beberapa waktu
lalu. Diriku yang sudah tertangkap basah bingung harus menunujukkan ekspresi
apa, hehe… aku mendapatkan inspirasi dalam seketika, kenapa aku tidak
menggunakan ekspresi WATADOS saja fikirku, sambil sedikit menggelengkan kepala.
Menegaskan aku tidak ingin tahu dengan apa yang telah dia lakukan berdiam diri
di depan layar dengan ekspresi yang aneh buatku, tapi unik dan indah. Setelah
berbincang dengan contur wajah saja kini wajah kami berpencar ke lain arah.
Dirinya kembali lagi menyelami masalahnya semula dan aku kini bepura-pura
memandang kearah jendela dengan sedikit menutupi maluku karena tertangkap basah
memandangi sosok lugu yang terdampar di depan layar dengan ekspresi unik.
***
Terasa sumpek suasana
di dalam bis, hari ini rasanya begitu panas udara diluaran sana. Tapi karena
memang sudah punya niat ya mau diapakan lagi.
Tujuh pagi telah
berangkat dari rumah dengan berbekal uang seadanya dan makanan jajanan pasar
yang kami beli kemarin. Hari ini memang sudah di janjikan oleh kami untuk
merefreshkan diri melancong ke BOROBUDUR. Salah satu pariwisata kebanggaan kota
Magelang.
Tak terasa sejak naik
bis di umbul harjo tadi jam sembilan pagi, sampai sekarang hampir jam satu
siang, belum juga bis ini berhenti pada tujuannya Borobudur. Karena memang
jarak Jogjakarta-Borobudur, jika menggunakan kendaraan bebas membutuhkan waktu
kurang lebih empat jam perjalanan.
Suasana bis yang
memang ramai, memaksa ku untuk tidak mendapat tempat duduk alias berdiri. Serta
sekarang memang jamannya libur sekolah, so pasti banyak banget orangtua
mengajak anak-anak mereka berwisata ke tempat-tempat wisata. Didalam kendaraan
bebas ini tidak hanya turis lokal saja melainkan banyak juga turis mancanegara.
Ada satu yang menarik perhatianku, dia sendiri, sepertinya tidak ada keluarga
ataupun sanak saudara bersamanya. Tidak juga pasangan atau pacar, sekilas
seperti orang lokal, tetapi dia lebih seperti etnis mongolia. Telisik-punya
telisik ternyata dia kebangsaan jepang.
Dia begitu lucu
mengekspresikan sesuatu yang sedang dia liat, memperhatikan layar yang terus
menyala. Sepertinya dia duluan berada di bis ini karena, dia mendapatkan tempat
untuk duduk. Orang asing yang sedari awal ku masuk ke bis sudah menjadi
perhatianku. Gaya harajuku klasik, seperti osin di TVRI jaman aku SD dulu. Kuno tapi
stylis, i like your style gumamku dalam hati. Seiring laju bis yang semakin
melambat, karena memang jalanan daerah ke borobudur sedikit menanjak.
Beberapa orang mulai
terlihat turun di daerah Mendut, daerah ini juga merupakan obyek wisata dengan
tample atau candi sebagai primadonannya. Mendut adalah candi yang dibentuk oleh
seorang pangeran untuk melengkapi permintaan atau sayembara dari seorang putri
yang menginginkan candi sebagai maskawin pernikahannya. Hampir sama ceritanya
dengan candi Prambanan didaerah timur kota Yogyakarta. Tapi namanya kalah pamor
dengan Borobudur karena candinya yang hanya satu saja namun dengan luas
bangunan seperti bangunan tingkat empat bila diperkotaan.
***
Udara disekelilingku
mulai menjadi normal, nggak nyadar teman-temanku sudah berada di posisi duduk
masing-masing. Padahal perjalan masih setengah jam lagi sampai tempat. Beberapa
waktu kemudian, aku melihat ada tempat kosong tapi berada di samping cewek
negeri asing yang dari tadi aku perhatikan gerak-geriknya. Sampai kamipun
beradu pandang dan aku di buat tengsin karenannya. Apalagi aku paling tidak
terbiasa duduk berdampingan dengan seorang cewek, bisa-bisa aku risih sendiri
nantinya dan bisa mengganggu kenyamanan orang asing itu.
Terpaksa aku
menghampiri bangku kosong tersebut, karena yang memiliki di sebelahnya
mempersilakan padaku dengan anggukan kepalanya yang perlahan. Sempet gerogi dan
malu karena sedari tadi aku memperhatikannya dan sempat ketahuan olehnya.
(sesaat aku duduk)
Hi, (sapanya padaku)
Hi, balasku dengan
sedikit senyuman keramahan khas INDONESIA punya.
Diapun hanya membalas
dengan anggukan kecil serta senyum sumringah darinya.
Perjalanan masih lama
tapi suasana terasa kurang menyenangkan ya? Fikirku, apa gara-gara gua tadi
kebanyakan liat cewek ini dan ketawa sendiri ngetawain cewek ini?. Tapi enjoy
ajalah, dia juga nggak bakal ngerti dengan apa yang gua perhatiin tadi.
Ah kalo lama-lama
gini bisa-bisa garing neh, mending kayak tadi posisinya. Biar bisa mengexplore
suasana dan nuansa perjalanan ini, aha otak kreatifku muncul keatas permukaan.
Mumpung disebelahku adalah turis maka sebaikya aku gunakan kesempatan ini untuk
tetap membiasakan diriku menggunakan bahasa internasional, itung-itung learning
by doing seperti yang guru bahasa inggrisku sering ucapkan. Jadi membiasakan
diri ini fasih dengan sendirinya, mumpung ada lawan mainnya.
Ehm, ku beranikan
diriku dengan mengawali percakapan.
Excuse me Mrs ?
”Yes, what happend? Jawabnya dengan sedikit mengeja.
Where you come from?
”Japan ,
jawabnya sedikit menganggukan kepala, mungkin memang kebiasaan mereka bila
mengutarakan sesuatu harus mengganggukan kepala biar terlihat lebih mantap.
Do you speaking English?
”i do, but litle bit. Jawabnya merendah.
What is your name? Tanyanya balik padaku.
”my name is Angga, and you?
My name Emi Iwashita
from Tokyo
japan, you are the original indigenous?
“Yes iam.
you along
with everyone here?
Yes, but apart
from my family. Hehe…………
senyum lucu menghiasi pipinya.
“oh, how come?
Because I was
late for a shower, so they went first with a drive from the hotel.
they
went to the Jogja Kembali monument,
and I want to Borobudur Tample.
“it was
something funny to me. He……, sorry if I
laughing at your story.
No problem, for me too that so funny, This may be my vacation that say forget
for me.
”hahaha, so nice history for remember yeah?
Yup, certainly.
Sangat asyiknya kami ngobrol, tak terasa bis sudah
masuk ke dalam pelataran parkir wisata borobudur, teman-temanku ternyata
membiarkanku asyik menjalani pengalamanku hari ini berbincang dan berbagi
kebahagiaan dengan turis yang memperbolehkan aku memberanikan diri
berkomunikasi dengannya, meski conversationku yang membingungkan. Meski terik
trus menyengat sebagian kulit kepala, tapi perjalanan hari ini cukup
mengasyikkan.
Sebelum turun dari
bis, untuk segera melepas lelah selama dalam perjalanan jogja-borobudur, Emi
sempat mengungkapkan sesuatu padaku, would you be my guide during the
borobudur?
My pleasure, jawabku.
***
Emi Iwashita namanya
usianya beda tiga tahun lebih tua dariku, namun wajahnya yang khas jepang,
menunjukkan usianya lebih muda beberapa bulan dariku. Datang ke indonesia
dengan keluarga besarnya,yang memang sangat mencintai Indonesia. Menurut mereka
culture yang sama dan senyum ramah penduduk peribumilah yang membuat mereka
ingin sekali berkunjung ke Indonesia, meski mereka telah berkunjung ke tetangga
negeri yang lebih dekat dan serumpun dengan mereka, namun bagi mereka indonesia
seperti negeri sendiri. Sebuah bangsa yang memunculkan budaya negeri mereka,
mungkin karena indonesia sempat diduduki oleh kepemimpinan Nipon selama tiga
tahun, sehinggga orang indonesia sudah dianggap seperti saudara sekandung bagi
negeri mereka.
Berasal dari
Inubosaki light house, Tokyo, Japan, daerah pinggiran pantai kota tokyo dengan
pantai kebanggaanya Kujukuri Beach, daerah lepas laut yang begitu indah berada
di pinggiran kota. Namun tetap modern karena daerahnya tinggal dekat dengan
pelabuhan penakaran ikan, sehingga penghasilan utama mereka disana sebagai
nelayan. Mereka sangat takjub sekali dengan keindahan indonesia terutama dengan
sawah. Menurut mereka itu adalah Amazing, hanya dengan melemparkan biji rakyat
indonesia bisa menuai beras guna pangan pokok sehari-hari. Ketakjuban itu
pulalah yang menarik keinginan mereka mengunjungi indonesia, terutama dengan
keramah tamahan rakyat indonesia tentunya.
Inubosaki adalah kota
pantai dan terkenal sebagai tempat terbitnya pertamakali sang surya di daratan
jepang, atau orang sana menyebutnya Honsu.
Disana juga terdapat
Kamogawa sea yang akan menyuguhkan lumba-lumba indah layaknya perairan laut
daerah timur indonesia, karena lautan timur indonesia hampir sama iklim
perairannya dengan tanjung kamogawa, Emi berbagi keindahan daerahnya dengan
begitu membanggakan indonesia karena banyak kesamaan antara jepang dan
indonesia, diapun menyempatkan aku untuk ikut ke negerinya suatu hari nanti.
Emi adalah anak
pertama dari dua bersaudara, adik-adiknya masih sekolah di tingkat pertama bila
disini, sebenarnya hari ini menurut pemandu jadwal keluarganya adalah ke daerah
wisata dalam kota, seperti Monumen Jogja Kembali, Parangteritis, Keraton, dan
belanja di pasar Beringharjo.
Tapi dia memang
terbiasa berjalan-jalan sendiri, demi mendapatkan teman baru tuturnya. Berjalan
dengannya selama berada di borobudur membuatku bertambah pengetahuan, terutama
dalam bahasa asing, Seperti :
Ogenki desuka /
apakabar?
Ohaiyo gozaimasta /
selamat pagi
Umaku ikeba shiawase
/ semoga bahagia
Tanpa disadari
kamipun saling berbagi cerita dan pengalaman, jadi teringat kata-kata sakti
seseorang ” pengalaman berharga adalah teman yang memberanikan diri untuk
membuka dan mengembangkan wawasanmu tanpa sungkan dan merasa dirinya tahu
segalanya”.
***
Angga thanks, for the all moment. I’ll never forget
warmth and this wonderful holiday.
”So do i.
I’ll call u from my hotel in Jakarta
if i was arrive Jakarta
city
”alright, i hope u get happy vacation on indonesia .
Nashi kono hi no mottomo utsukushii omoide
igai, watashi wa itsu demo kibō wa watashi no tomodachi ni naritai Watashi wa Tōkyō ni purē shitai kibō (tak ada kenangan
terindah selain hari ini, aku harap kamu mau jadi temanku selalu dan ku harap
kamu mau main ke Tokyo)
“me too, if I have time.
Kami berpisah sejak mulai masuk pukul empat sore atau
tepatnya setelah setengah jam adzan kumandang ashar diserukan. Aku harus
menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim, dan dia harus menunaikan
perjalanan berliburnya.
Sedikit merasa kehilangan, ah itu biasa. Apalagi dia
belum beberapa lama kenal aku dan begitu sebaliknya. Mungkin ini memang
kebahagiaan yang akan manusia dapat ketika pintu kesedihan sedang terbuka
lebar, sehingga manusia merasa balance dalam menghadapi semua jenis cobaan.
Meskipun hanya sebait kau titipkan dalam larik
Atau sepatah berserak dalam tawa
Sejengkal langkah terukir dalam kisah
Pasti akan tersimpan dalam arsip-arsip ingatanku
Karena dirimu pernah menjadi keindahan-keindahan itu
Tak hanya sampai disini, ini destiny antara manusia
Pasti akan berlanjut meski tak bersua
Karena aku tau, kita pasti terpisah oleh jarak
Dan akan bertemu karena jarak
Bila jarak-jarak itu sudah siap diperdekat.
[5 sore, terminal
pariwisata Borobudur]
Sudah sampe mana yah
dia, mungkin sudah sampai setengah perjalanan menuju Jogja (fikirku).
Kamu kehilangan ya
Ga? Tanya kakakku
“siapa?”
Tadi si Emi, gadis
anggun, imut, lugu dari negeri jepang itu?
“oh, sedikit. Kira-kira dia sudah sampe mana ya mas?
Gentan…… paling
“walah ngawur kamu tuh mas, orang Gentan itu jalan
Kali Urang.
Hehehe, gitu aja nesu, emosi. Ya paling antaranya baru
sampe Muntilan atau Tempel.
“gitu ya?”
Tapi nggak juga deng, bisa aja dia sudah sampe Cemara
Tujuh.
“dua jam masak iya
udah sampe sana?
Lo kok nggak ngandel,
orang tadi aku liat dia pake taxi, bukan naik bis umum kayak kita gini.
“oh iya, tadi itu
katanya dia harus cepet sampe hotel sebelum jam tujuh, soalnya dia mau take-off
ke Jakarta.
***
Pangkalan ojek 1.00
dini hari
Waduh, nggak ada ojek
yang masih hidup lagi
“mana ada yang mau
hidup lo nggak liat neh jam berapa?
Kupret ki, dewe
kesuen mangan nang angkringan mbesi sih. Ngopo mau ndadak mandek madang nang
kono yo? (sesal Heru).
“alah y owes nek
memang kudu melaku, ayok lah. Timpalku
Ayo arep pie neh, wes
ke bacot, tinggal pirang ngatus meter neh.
“otre nek ngono
serempak jawab kami”.
Sunyinya pagi hanya
dihuni oleh suara dengkuran mereka yang telah terlelap dari mimpi, dan suara
deru kaki kami para pejalan kaki. Meski sesekali ada beberpa motor pribadi yang
melintasi jalan, atau mobil-mobil nakal yang mencari kehangatan didinginnya
malam. Nggak perduli dengan mereka, yang penting cepat sampai kosan dan
merebahkan segenap dendam akan mimpi malam.
Dalam sunyinya
perjalanan tanpa ada percakapan, tiba-tiba Bogel nyeletuk.
“Mak’e cita-citaku
nanti kalo dah sampe kosannya Angga. Aku mau balas dendam sama kasur.
Sama, timpal Heru.
Aku mau bikin kasur sama guling puas tidur denganku seharian, besokkan masih
masuk dalam daftar libur to?
“ hahaha, rai nek rai
pelor ki yo ngono, damprat kakakku.
Weh dudu ngono e mas,
ini karena tuntutan profesi, biar ratingnya naik, sanggah Bogel dengan
gesitnya.
“Bogel-bogel, apa ne
sek naek, paling yo rating ilermu gawe pulo mimpi kui sek nambah, celetuk Opik.
Lah-lah do podo raseneng to karo aku ki, timpal Bogel.
“ih, sorri seneng
karo koe, emang kita cowok apaan. Bantai Anto sekaligus mengakhiri candaan kami
yang sunyi.
Karena kami sudah
memasuki gapura desa, takutnya nanti pak Kadus dan semua warga terbangun karena
banyolan kami yang menimbulkan tawa yang ramai. Bias-bisa dikira garong yang
mau mencuri hati anak pak Carik, si Tantri yang manis sejati kembang desa
tempatku tinggal.
Jalan kamipun semakin
pelan dan hati-hati, yang tadinya deru sandal berkejar-kejaran bunyinya, kini
perlahan senyap seiring hilangnya canda tawa yang mengiringi dini hari dalam
sunyi mimpi hari. Akhirnya sampai juga didepan kamar, manusia-manusia brutal
mulai berhamburan menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan menuntaskan lelah.
Sampai akhirnya mereka berlompatan menghampiri hamparan kasur empuk yang telah
lama menanti.
Dan dengarlah cerita
kami dalam mimpi
Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz”………………
zzzzzzzzzzzzzzzzzz”
Groooooook,
suuuuiiit. Groooooook suit……………………
Brebekbekbekbek, tuut
duuuuuuuut, preeeeettttttttt atau,
Eeuuuuuuh,
slakalakamnjnkkjj, euuuuh di situ………. Belebeleb (ngiggo)
Krrrrrrrtttttttkkkkkkkk
(gigi gemeretak). Dan,
Hehehehe…………, itu
tawa saya dalam keributan mereka.
***
12.am
Kepagian nih
bangunya?
Euhhhhhhh (dengkuran
malas dari kami).
Asalamualaikum……………,
bangun-bangun dah pagi. Eh salah, dah siang.
(Anto mengucek
matanya tanda dia yang bangun duluan) scream…………,
Mulai
mengguncang-guncang Bogel, Heru dan Aku.
Ga………, Ga………,
Angga……………, oi kebo, bangun. Liat tuh sapa yang dateng? Usik Bogel padaku.
“euuhh, dengan
males-malesan dan sedikit terpejam aku jawab siapa, bu Kos?
Bukan……, kayaknya cewek,
masih muda kok.
“udah buka aja
pintunya, bilang gua lagi tidur. Paling juga Diah, tetangga kamar ujung,
biasanya seh pagi gini dia nganterin nasi uduk gitu.
Ai, males lah gua. lo
ajalah ntar takut salah gua.
“ berisik, ngepetlah
lo rang (aku pun beranjak dar tidur ku)dengan sedikit mengucek mata untuk
menghilangkan bagian belek yang tersisa.
Asalamualaikum……………
(suara dari luar)
^0^ (spicles………… coy)
aku tutup lagi tuh pintu kosan.
(masih bengong nih
aku) ini beneran ya woy? Tanyaku pada mereka.
“apaan? jawab mereka
sedikit bodoh.
Diluar ada………,
suaraku tak dapat kulanjutkan (tak percaya)
“ada sapa? Tanya
mereka serempak (penasaran)
Aku tinggalkan mereka
dengan rasa penasarannya, ku buka perlahan pintu kamar dengan diri yang sudah
lebih siap.
:D(tersenyum
sedikit memaksa)
Lama banget sih
bukannya,pasti masih pada tidur y, ganggu dong?
“eennggg enggg,
enggak kok (masih nggak percaya klo ini beneran)
Klo ganggu kita pamit
aj, ucap salah satu dari dua tamuku.
“nggak kok, nggak
ganggu. Ada apa sih?
Gini kata OSIS mereka
butuh koord baru buat olah raga, kamu bisa?
(garuk-garuk rambut)
Klo nggak bisa, biar
nanti kita cari orang lain… (pasang tampang ngarep)
“diliat ntar y, masih lama juga kan putusannya. Terus calonnya siapa aja?
Kalo bisa secepetnya, meski putusannya masih dua
minggu lagi. Kandidatnya itu ada Burhan 1C, Bayu 2F, Nanang 1B, kamu……, udah. Alta
mengakhiri ucapannya.
“ insyaallah, tapi nggak janji”
Ya udah kita pamit
ya, asalamualaikum. Key dan Alta perlahan menghilang dari hadapanku terhalang pepohonan
samping, tanpa berpaling kearahku sedikitpun.
“ alaikumsalam wr.wb, lirih jawabku dalam hati.
***
Selepas kepergian mereka, aku masih tetap ngejedok didepan pintu dengan
nyawa yang masih setengah ngumpul. Nanang anak terakhir dari Pak kos
memanggilku.
Mas Angga…………!!! (sedikit teriak)
“ia……………………?!! (balas menjerit)
Anter saya ke pasar keliti’an bisa?
”mau beli apa ya mas?
Beli onderdil motor, tapi cari yang murah aj.
”mau dibuat opo to? (sedikit jengking melihat kebawah)
Mau ada project buat Trail, nggak ada onderdil yang
bisa di kanibalin kalo nggak nyari di Kleti’an.
”o....., jam berpa rencananya?
Abis ashar gimana, bisa to?
”ha gampang tek, yang penting kasih tau aj.
Otre....
Nanang kembali masuk kedalam rumah, belum sempat aku
beranjak dari tempatku ngajedok. Iringan suara motor memasuki pelataran
kos-kosanku, karena sedikit ingin tau siapa yang datang, aku intip dari balik
catur-catur teras depan kamarku.
Waduh yang datang
klompotan kaleng rusak, siapa lagi kalo bukan teman-temanku pecinta motor
clasic dan vespa. dari balik kumpulan anak-anak nggak beres terselip Gateng,
yang dengan santainya melompat dari motornya seraya menyapaku.
Oiiiiiiiiii !!! (ini
mah beneran teriak)
”oi......., (jawabku,
sambil mengangkat tangan)
Bogel katanya
anak-anak tidur disini?
”tuh masih ngorok.
(menunjuk ke arah kamar dengan wajahku)
O...., mana?
”keatas no, we cah-cah podo munggah ojo nang ngisor ae.(ajakku
pada beberapa temanku dibawah)
Makasih, kita nggak
lama kok Ga, cuma nganter Gateng jemput adiknya.
Beberapa detik
berselang, Gateng sudah ada dihadapanku, dengan sedikit berlari dan
terengah-engah.
Rasah pelayon, ndak tibo.
“mana bocahnya?
Iseh nang jero turu, golek ono dewe.
“asalamualaikum (sambil nyelonong tanpa buka sepatu)
(dasar cah kentir,
edan) nggak punya tata krama, gumamku. Gel tangi gel, koe dikon balek kon
mamak, bantoni maton mas Katno. (suara Gateng membangunkan Bogel).
Berisik wae Koe ki Teng,
celetuk Heru.
”asem, meneng koe
setan. Aku gek nangekno adiku, nek turu-turu ae.
Yo rasah rusuh
ngono-no, sela anto.
”Gel, tangi ra. nek
ora tak bantai koe nang kene.
Berisik koe ki teng,
mang koe arep nangdi? (tanya Bogel sedikit kesal).
”cah-cah arep toring nang Klaten, dadi saiki koe sek
bantoni mas Katno nang ngalas.
Yoh, lungo kono (bogel berenjak berdiri, siap-siap
untuk pulang).
***
Kawasan Mirota campus semakin padat dengan ramainya
mahasiswa yang mulai berkeliaran keluar dari kampus UGM, ada yang baru selesai
kuliah atau ada yang baru pulang karena kesibukan mereka di organisasi atau
mereka yang mulai lapar dan mencari makan.
Motor yang dikendarai Nanang setengah kencang melihat
waktu kami keluar rumah sudah lumayan sore. Suasana ramai mirota campus mulai
perlahan hilang seiring perjalanan kami keselatan menuju pasar keliti’an. Pasar
yang terdapat di dalam area pasar Bringharjo tepatnya kawasan Malioboro,
jalanan semakin padat seiring ramainya mereka yang baru pulang dari kantor.
Mas emangnya motor balapnya mau bikin lagi to, dengan
posisi kepalaku yang sedikit mendekat ketelinga bagian kanannya, karena suasana
jalanan yang rramai. Sambil membenarkan helm yang sedari tadi mengganggu
telingaku.
Ha? Opo mas, nggak kerungu e…… berisik banget. Dengan
sedikit teriak dan membuka setengah kaca helm yang menutupi wajahnya.
Anu, emangnya mau bikin motor balap lagi? Suaraku
teriak mengimbangi bunyi kenalpot racing yang sedikit tercekik.
Oalah, nggak. Cuma mau bikin trail buat naik ke gunung
merbabu. Disana lerengnya terjal tor bagus, setengah bulan lagi mau diajak
bapak berburu, sekalian jajal medan. Hehehe, tetap dengan tawanya yang khas.
o……, tak kiro ki mau ganti motor gestreknya. La wong
ini aja masih bagus gini je, pandanganku sedikit terganggu dengan para
perempuan yang hilir mudik di pinggir trotoar. (cuci mata coy)
nggak akan terganti mas motor ini mah, mau ada yang
nawar duapuluh juta juga nggak bakal aku lepas mas, dah cinta soalnya.
Hehehe…………, masih tetap mempertahankan gas motor dan tawa khas burung
pelatuknya.
Setengah jam sudah perjalanan yang kita tempuh dan
berlama-lama berada dalam kemacetan sore di Jogjakarta. Memasuki pelataran
perkir, kami menuju base D sudut tiang ada yang kosong. Baru saja kami mengarah
kesana sudah ada yang mendahului memposisikan motornya disana.
Motor Yamaha seven kualitas jerman, atau sering orang
menyebutnya adik dari ducati. Motor setelan khusus balap GP ini ternyata ada
yang punya juga di Indonesia tercinta ini, yah meskipun bias di hitung dengan
kuku.
Nanang merasa panas karena kami duluan yang mengarah
kesana tapi malah orang lain yang menyerobot. Kami posisikan motor melintang
tepat di depan motor besar itu. Si empunya motorpun nggak bias keluar karena
jalannya kami halangi, belum juga sempat dia membuka helm fullfacenya dengan
merek aria. Amat sudah mendahuluinya dengan berondongan pertanyaan.
Maaf mas, kita duluan yang liat ini lahan kosong. Tapi
kenapa anda nyerobot?!! Sambil mengacungkan tanganya kearah si pemilik moge.
Dia enggak sempat membuka helmnya, tapi tidak juga
menjawab pertanyaan Nanang.
Wajah Nanang terlihat emosi dan terbakar sekali,
karena etikat baiknya bertanya tidak dijawab. Turun dia dari motornya
menghampiri si penyerobot tadi, dengan membuka helmnya.
Udah Nang, nggak usah nyari rebut, nti bias-bisa kita
nggak dapet barangnya lagi.
Helmnya ditenteng di samping kanan dari badannya,
masih dengan wajah emosi dan tidak menghiraukan ucapanku.
Si penyerobot di depan kami jarak beberapa depak,
perlahan membuka jaketnya. Dari pakaiannya jelas sekali kalau dia bukan lelaki,
dengan pakaian lengan panjang warna abu-abu, dengan kantong doraemon didepannya
dan motiv bunga-bunga khas kesukaan kaum cewek.
Langkahnya mulai terhenti, sepertinya emosi yang tadi
menyelimutinya mulai sedikit reda. Kepalanya menoleh kearahku yang masih duduk
di atas motor.
Helm hitam fullface itupun perlahan terbuka, mulai
terlihat wajah cantik didalamnya. Dengan sedikit innocent dan senyuman kecil
tanda tak bersalah, yang dapat membuat ciut dan malu siapa saja yang baru saja
marah. Terlontar sedikit kata dari mulut manisnya, Maaf.
Luruh semua tenaga dan emosi yang terkumpul dalam diri
tadi. Kemudian secara perlahan badan tegap itupun tersenyum kecut, kembali
kearah motornya, kearahku.
Nggak jadi marah to mas, sindirku sambil sedikit
cekikian di balik kaca helmku.
Wah nggak enak e mas, perempuan/coba kalo nggak
perempuan tak kepruki. Sambil sedikit ngedan memutar arah motornya.
***
Telphon berdering tanda tak mampu…………
Teriakan memanggil dari arah rumah bapak kos tanda ada
telphon buatku.
Sautan dari dalam kamar tanda menyetujui akan
menerimanya itulah suaraku, dan perlahan menutup pintu, menuruni tangga dan
sampailah ketempat yang dituju.
Dari sapa mas?/ tanyaku dengan sedikit berbisik biar
nggak kedenger bersisik.
Suaranya cewek, tapi kayaknya bukan orang sini.
Bahasanya juga sedikit ancur alias nggak jelas./ ikut berbisik dan memainkan
matanya tanda jahil meledekku.
Hallo,
hows speaking? Right this is Angga? Tanya suara itu dari kejauhan.
‘Ya bener. (bertanya dengan mengedipkan mata kearah
rahmat)tanda ngaak tau.
Oh hai, I am Emi
Washita.
‘oh Emi, how are
you? Where u now?
Iam in
Jakarta, tomorrow I’ll back to japan, take off at seven morning.
‘realy,
tell me if u was arrive Inuboshaki.
Yes
I’ll call u.can u help me to say Indonesian language about leaving friends.
‘o,… follow me otre, selamat berjumpa kembali.
Selamat berjumpa kembali (dengan aksen bahasa yang
sedikit terputus)
Seperti ada yang hilang sebait kenangan dari diriku,
meski sebenarnya Emi belum lama aku
kenal tapi seakan aku akan kehilangan teman lama. Mungkin benar apa yang
dikatakan kebanyakan orang, tak selamanya yang lama bersama kita akan begitu
berarti. Tak selamanya juga seseorang yang baru kita kenal tidak meninggalkan
kenagan yang dalam.
Sebenarnya pa yang diinginkan oleh sebuah hati?
Pertemanan yang tiada terganti atau kasih saying yang tak terhenti?
Berpendarlah…
Layaknya cahaya di malam hari
Atau mentari yang
Akan selalu dinanti
Izinkanlah…
Sebagian jalan ini milikmu
Berdampingan dengan langkah kakiku
Terhenti hanya untuk menikmati
Kenangan
Sebuah memori, yang
Akan aku tagih nanti di suatu
Pagi.
Terimakasih
memori…………
Labels: Jogja Disini Masih Ada Cinta
0 Comments:
Post a Comment
<< Home