Ada Parit Lembut dari Tuhan, Hati Kita
Bismillahirahmanirahim,
Seraya beranjak dari
tempatku mengenakan sepatu, semoga hari ini akan menjadi lebih sempurna seperti
hari kemarin. Dengan kecepatan penuh, ku kayuh sepeda unitedku sepeda yang
selalu setia menemani pergaulanku diluar sekolahan. Sepeda dapat dari hasil
menyisihkan uang kiriman tiap bulan, tak terasa sudah tiga tahun lamanya sepeda
khusus freestyle ini menemaniku. Tapi baru hari ini dia dapat aku bawa ke
sekolahan, karena hari-hari sebelumnya aku lebih suka beramai-ramai bersama
dengan teman-temanku berjalan kaki.
Tidak ada teriakan
dari pak kos yang menghentikan aku lagi pagi ini, tak ada sindiran bapak kos
juga tentang penampilan dan apakah aku telah mengguyur semua tubuhku, bukan
hanya menyeka belek di sudut-sudut mataku. Mungkin karena pagi ini aku pergi
terlalu gasik, karena tak sewajarnya aku si remaja malas, pergi meninggalkan
sarangnya pagi-pagi sekali. Jam enam tiga puluh aku sudah rapih dengan tas khas
anak-anak seni, tas kecil ala kadarnya hasil sulaman tangan sendiri dari karung
goni/tepung. Sepertinya ini adalah recordku bangun pagi selama tinggal di
kosan, selain hari minggu. Sebab jika hari libur, malah bangunku lebih pagi
dari orang-orang di lingkunganku, karena aku harus bangun pagi untuk berlari.
Belum sampai depan
gerbang aku menyaksikan banyak siswa pria bergerombol di dekat SMP tepatnya
pojok lapangan, biasanya kalo ada rame-rame ngumpul seperti itu tidak jauh-jauh
dari arena perkelahian. Ah aku nggak mau ikut campur, mending aku masuk ajalah.
Pagi-pagi gini udah nyari keringet, kurang kerjaan banget. Maleslah ikut-ikutan
bergerumbul apalagi sampe ikut nimbrung. Belum saja aku menyandarkan sepeda di
parkiran, diriku sudah ditarik oleh temanku, dengan buru-buru dia menarikku
turun dari sepeda.
“Bahar berantem sama
anak kelas dua, masalahnya beres basket kemaren bahar lagi duduk di pinggir
aula sambil ngaso, tapi tasnya nggak sengaja ke injek sama gerombolanya Gateng.
Terus si Bahar ngeliatin aja dia orang lewat, Gateng nggak seneng sama gaya
ngeliatnya bahar terus misuh-misuh. Bayu juga ikutan, malah jadinya Bayu sama
Bahar sengel di belakang aula, tapi Cuma bentar soalnya Mr Punk sama Kepala
Sekolah keburu dateng, kayaknya sih ada yang ngabarin kepala sekolah sama Mr
Punk.
Aku masih diam
terpaku mendengar penjelasan Ndaru, dalam kediamanku itu dengan cepatnya Ndaru
menarik tasku. Dah mending sekarang kita kesana aja, buat mastiin kalo Bahar
nggak di keroyok sama anak kelas dua. Akhirnya aku sadar dengan sedikit berlari
mengikuti langkah kaki Ndaru yang begitu cepat menarik tasku. Sepedaku ku
jatuhkan begitu saja, tanpa kubenahi dulu. Dalam perjalanan sempat aku bertanya
pada Ndaru. Bisna ada disana? “ ada”. Waduh gawat nih, Bisna kan anaknya
gampang mutungan, bias-bisa malah anak kelas dua ancur semua hari ini, kalo
nggak disekolah ya diluar sekolah. Masalahnya Bisna kan dekengannya banyak la
terus dia juga lagi nggak seneng banget sama kelompoknya Gateng, gumamku sambil
terus berlari.
Sesampainya disana
aku masih melihat, Bahar dan Bisna santai duduk berjongkok dikerumuni beberapa
siswa yang lain, rata-rata anak kelas dua. Kulihat di depan mereka Gateng juga
berposisi duduk jongkok dan di belakang mereka berdiri tegak
petentang-petenteng, Bayu dan Rahmat.
Aku langsung saja
menerobos gerombolan pertama, lalu berdiri di belakang posisi Gateng. Rahmat
dan Bayu tidak sesombong sebelumnya, sebelum melihat kedatanganku.
Lo nggak apakan
Har/Bis? Tanyaku dengan sedikit terengah untuk memastikan kabar mereka.
“apek bro”, jawab
Bisna dengan nada keras yang sedikit dibuat-buat.
Ki piye to masalahe Teng? Tanyaku untuk mengetahui
duduk perkaranya pada Gateng, karena kelompoknya yang membuat perkara.
“nggak usah ikut campu Ga klo kamu nggak ngerti
apa-apa”. Jawabnya dengan sedikit sinis.
Ya nggak gitu Teng, omonganmu itu nggak ngenake
kuping. Apa kamu memang nggak seneng Teng sama aku? Tanyaku dengan nada rendah,
selayaknya orang bertanya, tanpa bumbu emosi meski dalam diri telah bergejolak
rasa panas.
“nggak gitu juga Ga,
orang nggak ada apa-apa kok, kamu dateng terus nanyanya kayak ada apa-apa aja”.
Jawab Gateng dengan kepala mengla-mengle dan mata yang di tujukan naik turun ke
tubuhku.
Tapi aku nggak seneng
sama jawabanmu pertama lo Teng, rasah nyolot ngono kalo nggak ada apa-apa. Wong
aku Cuma mastiin aj.
“yo wis, pengenmu
piye Har/Bis?” tanya Gateng pada kedua temanku yang berada di depannya, yang
kini telah berganti posisi dari jongkok menjadi setengah membungkuk.
Kalo mau jadi
sekarang sekalian we di bar-no, ucap Bisna lantang. Sedang Bahar masih diam
sesuai pembawaannya yang tenang.
“ngomongmu kok ra
penak ngono Bis”, balas Rahmat.
Udah-udah, lebih baik
beres aja damai. Ucap suara dari luar kerumunan.
“enak wae ngomong
sembarangan, arep melok di antel po piye?” tanya Gateng dengan kepala menggat
menggot mencari siapa yang berani bicara seperti itu.
O, wes bosen urep kowe cah. Suara itu semakin
terdengar jelas dengan menampakkan si pemunya suara.
“weh mas Sani, ora
mas. Anu mauki tak kironi suarane sopo kok rodo kementus, wani-wanine kon bar
ae le gelut”.
Matamuki mulakno
dicelekno sek sak durunge ngomong, ngelokno aku sok kementus neh. Kowe jua Ga,
tak andakno karo Andek ko awakmu.
“ora San, aku lak
mong pengen damaike kok, aku ki ra tau melu-melu”.
Halah, wes poko’e do
kudu melbu kabeh saiki, wes sek do nonton mendeng do bubar, ben ranganti
kerungu guru. Bay/Teng/Mat njok ngapuro karo cah-cah kui, kue wong juga cah
kelas siji, kudune do rukun nek karo kakak kelase.
“lo tapi mas”, bantah
Bayu pada Sani.
Ra ono tapi-tapi,
sekarang semuanya maafan, kowe Ga ayo bali karo aku ke sekolahan. Kamu semua
sepeninggal aku sama Angga nggak boleh ada yang ribut lagi, ancam Sani pada
mereka.
***
Tubuh ini terkulai
lemah, seperti biasanya tak pernah bisa aku mengerti dan sadari kedatangan
keadaan ini. Layaknya terbakar api di dalam perut, dengan skala sedang namun
merata di seluruh tubuh. Seakan habis menenggak minyak satu liter dan kemudian
dibakar menjalar. Kakiku tak dapat ku pijakkan dengan baik, ku sandarkan
tubuhku sedikit miring dibawah balkon sekolah, merintih menahan sakit yang tak
dapat ku gambarkan, masih dengan ekspresi meringis biar dianggap orang yang
melihatku, aku sedang tertawa. Mataku masih sedikit terpejam dan kadang sulit
untuk aku buka karena sulit yang terasa sakit dan tak dapat di deskripsikan.
Tak kusadari diseberang lapangan upacara wajah itu terus memperhatikanku. Aku
mulai bisa mengembalikan keadaan seperti semula, dengan sedikit terkulai lemas
yang kupaksakan biar tak terlihat lemah, ku balas pandangan itu dengan senyum
miris rasa sakit yang tak mungkin kuceritakan kepadanya. Sosok diseberang itu
pun berlari kecil menyeberangi lapangan, sepertinya akan menghampiri diriku.
Wajahnya yang anggun
dan tetap mempertahankan senyum kecilnya semakin menguatkan aku untuk tidak
memperlihatkan rasa sakit dadakan ini.belum sampai sosok itu ditepian lapangan,
menyingkirkan pandangannya dari diriku karena ada bola dengan kencangnya
menghampirinya. Bug, telak mengenai wajah anggun itu, reflek tubuh lemah ini
berlari menghampiri tubuh yang tadi akan menghampiriku dan kini siap jatuh
tergeletak karena terkena bola basket nyasar. Key, teriakku dalam hati.
Beberapa menit
kemudian sosok itu telah dibawa ke ruang UKS, aku terlalu malu untuk mengikuti
tubuh itu, terlalu banyak hero yang mengelilinginya dan mengaharapkan dia menjadi
pendamping dari para hero-hero itu. Key seandaninya kau tau,…………………………
Tanpa kusadari sosok
mungil sudah berada disampingku, dengan sedikit sunggingan senyum khasnya,
seakan mempertanyakan rahasia kepadaku, kenapa aku tidak ikut mengantar
temannya yang kena bola tadi ke ruang UKS. Bukannya malah tertegun seperti
seonggok kayu using yang tak berguna begini. Ku balas sunggingan itu dengan
senyum lebar tanpa ada nyawa secuilpun didalamnya, menjawab pertanyaan
rahasianya bahwa aku tidak pantas menjadi hero-hero seperti mereka yang
mengantarkan temannya kedalam ruangan, aku lebih nyaman menjadi seonggok kayu
usang yang berdiri tegak memandangi sosoknya, namun dapat dia gunakan bersandar
disaat dia lelah dan butuh kenyamanan dalam berdiri.
Lebih baik ku tinggalkan
saja sosok bingung ini fikirku, biar tak banyak lagi yang menjadi pertanyaan
dalam diamnya. Sehingga tak perlu susah ku menjelaskan dengan cara ku diam
juga, ketika ku ingin berlalu dengan menjelaskan pada sosok mungil itu dengan
anggukan, langkah ini terhenti dengan pertanyaan sungguhan yang keluar dari
mulutnya.
Kemana Ga, kok nggak
masuk kedalam……?
“kayaknya nggak deh
Nit, kasian dah banyak yang kedalam, nanti malah kehabisan oksigen lagi kalo
semuanya Menuhin ruangan UKS, lagian aku harus ke kelas lagi”.
Kok buru-buru sih,
kan masuknya juga masih 10 menit lagi.
“aku duluan ya, aku
belum ngerjain tugas bahasa inggris, da…”. Sambil ku berlalu meningglkan sosok
itu yang terus mengawasi kepergianku.
***
Mengulik, menelisik
dengan semua pertanyaan yang belum terjawab hari kemarin, namun aku masih
terlalu ragu dan malu untuk bertanya bagaimana keadaanya. Lengkap sudah semua
pertanyaan yang menggunung setelah mengetahui bahwa ternyata dia telah ada yang
punya setelah Reyga yang memang temanku, kini ternyata dia menjalin hubungan
dengan teman sekelasnya. Kayaknya gua kudu tanya langsung ke yang bersangkutan
nih, biar nggak jadi gossip dan perasaan yang aneh. Tak sampai hati rupanya aku
bila mendengar jawaban ia dari dia bahwa berita yang terjadi belakangan ini
benar nantinya.
Semua fikiran itu
untuk beberapa waktu ternyata dapat aku singkirkan dengan kesibukanku
mengerjakan soal-soal matematika dan bergerumun dengan teman-temanku di
lapangan bola atau asyik main basket, meski keadaan khawatir di dalam hati tak
juga berhenti. Berita itu semakin jelas setelah teman-teman dekatnya
mengabarkan padaku. Lusa kemarin sebelum kejadian di lapangan ternyata dia
telah menjalin hubungan dengan teman sekelasnya Vino, pantas saja kemarin Vino
begitu antusias membawanya keruangan UKS. Bertindak seakan akan hero yang baru
saja menyelamatkan putri dari raja tamak haus akan cinta seorang putri cantik
atau naga yang bergigi taring sebesar-besar gunung layaknya cerita yang
tergambar di dongeng-dongeng.
Lebih baik seperti
dulu menjadi seseorang yang terasing dan tidak pernah mengenal mu cinta,
mendapat predikat dan lisensi dari ISO bahwa temanku tak ada satupun yang dari
kaum mu wahai hawa. Atau di pandang sengit karena kau dianggap sombong oleh
mereka para wanita, mungkin karena ketakutan yang tak dapat digambarkan,
ketakutan tak dapat mengartikan hadirmua cinta. Merangkak menyelami semua
puncak kejenuhan yang perlahan akan aku simpan dengan rapih hingga yang membaca
dapat mengerti perlahan, meski kalian harus memaksakan. Jangan mencoba memahami
dengan kisah ini tapi cobalah menjadi bagian dari buku ini, karena kau cinta
takkan pernah dapat memahami apa yang seharusnya menjadi tautan dari
keterasingan yang telah kau sebabkan dengan sejuta rahasia yang tak pernah bias
aku dan manusia-manusia pecahkan, hingga akhirnya kuterbenam dalam senyum lebar
rasa lelah.
Hari ini menjadi
semakin tak terkendali, tak bisa seperti hari usang yang lain, hari dimana
sakit terlalu menjadi biasa berita yang menyesakkan itu perlahan pudar seiring
dengan senyum yang terkembang, terkembang dengan rasa palsu yang banyak orang
pasti mengerti arti senyuman itu, karena semuapun akan perlahan kita tinggalkan
dengan semua ketidak mengertian akannya cinta.
Tolong diam untuk
sesaat, coba lah perlahan untuk memahami sesekali, mengorek kembali lelah yang
baru terjadi namun tak membiarkannya menjadi genangan resah yang bisa
menghanyutkan, jika memang ini yang terbaik cinta, biarkan lelah kaki-kakiku
terpancang layaknya kayu usang yang hanya indah memandang dan sesaat kau basahi
oleh air terjun yang mengalir perlahan dari bilik matamu, hingga kau terhenti
dari sedihmu mendapatkan pijakkan semangat baru untuk menantang kerasnya
hidup,cinta dan harapan yang kau hadapi. Karena kayu ini akan selalu
setiamendekapmu meski tak pernah kau merasa, akan selalu menjagamu meski kau
tak pernah mencoba untuk dijaga, mendukungmu meski terlalu banyak hati yang
mendukungmu dengan harapan, terakhir biarkan kayu lusuh ini terus memandangimu
dengan bebasnya dan tanpa aling-aling berada disisimu karena kau bersandar pada
tiangnya.
Gua ke toilet dulu
ya…
“mau ngapain Ga?
Tanya bisna padaku
Biasalah, mau tau
aja… mau ikut pa kamu, pake nanya segala?
“wes Ngga kei we nang
kene ben si bisna puas”. Sambar Luwak dengan di barengi tawa beramai-rami dari
anak-anak yg lain.
Matamu kui Wak, lo
samain gua sama gituan, sorri koe we dewe kono, ucap bisna ketus.
“we… mutung, la koe
mau tekok lak pasti pengen karo opo sek arep di tokno Angga to?”, ejek Luwak
dengan wajah yang tersirat sangat puas.
Karepmu lah Wak,
jo-jo koe neh sek pengen…
“lo koe kok malah
ndadi Bis, ngajak rame po?”
Alah, wes-wes cuma
gara-gara aku mau ke WC aja lo berdua pengen rebutan opo sek arep tak keluarin.
Sambil ku berlalu tak menghiruakan tawa terbahak-bahak mereka yang semakin jadi
karena ucapanku terakhir.
Dua ratus langkah
yang telah ku hitung untuk mencapai toilet, tapi rasanya tak sampai-sampai.
Mulai lagi, rasa sakit aneh itu mulai bermunculan lagi, kini semakin aneh
berlompat-lompatan kesana kemari menggunacang semua isi perut, namun tidak
meninggalkan dampak yang pasti, dengan perlahan ku cari dinding untukku
menyandarkan kelemasan tubuh ini, mataku terpejam menahan sakitnya, tapi indara
perabaku merasakan genggaman kuat tangan membantuku untuk bersandar. Aku masih berada
dalam alam sakit ini, menyelami satu demi satu perasaan yang semakin menjadi
runyam hingga aku tak tahan untuk melepaskan kata kecil yang muncul dari
mulutku, arrgh.
Angga… angga…, kamu
nggak apa-apa kan?
(aku masih diam dalam
sakitku, mencoba mencerna suarqa siapakah gerangan)
Ga, jangan bikin
khawatir gini deh. [suara tak ku kenal itu memperjelas rasa takutnya]
Aku bawa ke ruang UKS
ya, suara itu mengajakku dengan rasa khawatir yang dimiliki pemilik suara itu.
“nggak usah, aku
nggak apa kok”. Sambil perlahan ku buka mataku.
kamu nggak apa-apa
kan,Ga? suara lembut itu perlahan menanyakan keadaanku.
”aku masih diam tak
menjawab pertanyaannya”, dalam kebisuanku aku mengutuk diri ini, mengapa kau
hadirkan dia dalam kacaunya diri ini Tuhan. uhuk-uhuk, ku awali kesiapanku
menjawab pertanyaanya dengan sedikit menahan letihku akan sakit aneh ini.
Ga, jangan bikin
orang khawatir deh. kamu baik-baik aja kan?
”kayak yang kamu
liat, aku baik aja kan, kamunya aja yang panikkan”.
ih, dasar. tau kamu
cuma action gini aku biarin aja tadi.
“sapa juga yang
action, terus sapa juga yang minta kamu dating”.
ya udah kalo gitu,
aku pergi aja. [tubuh itupun berlalu dengan rasa kesal yang mengganggunya]
“maafin aku Key, aku
nggak pernah punya maksud…………………
***
[ pagi buta di depan perapian kompor ]
cinta itu kayak kentut yah, kalo di diemin di tahan-tahan bisa bikin
sakit perut, bahkan bisa lebih parah kalo nggak bisa keluar bisa masuk ruang
operasi dan harus rela ngeluarin duit berpuluh-puluh juta, tapi kalo bisa
keluar dan dipaksain keluar pasti selalu bikin ribut. atau ada yang pernah
bercanda dengan kata-kata konyol mereka kalo cinta itu layaknya kotoran, yup
nggak salah lagi, kotoran hewan, tumbuhan atau manusia.
jogja di guyur hujan lagi, nuansa yang sangat menyenangkan untuk berlari
dengan melepas semua penat di bawah derasnya air yang turun. pagi ini ternyata
terlalu dingin tak seperti biasanya. rombongan bebek yang hendak mencari sesuap
nasi kesawahpun terlihat lucu dengan rasa dingin yang mendera. diatas kursi kulihat
begitu nyenyak pusi mendengkur dengan sedikit menggigil karena merasa dinginya.
burung kutilang termangu berjejer diatas genting, seakan berfikir bagaimana
tidur nanti malam, bila pagi ini tak bisa mencari makan untuk anak-anaknya.
pusi mulai terbangun dari tidurnya, menggeliat melepaskan rasa dingin,
menatapku dengan penuh rasa curiga sedang apakah gerangan aku? dia melompat
mendekatiku berjalan pelan dan berada disampingku, ikut menikmati guyuran air
yang semakin dingin.
pus kamu tau nggak kalo aku lagi bingung?
tak ada jawaban darinya, hanya jilatan lembut pada bulu-bulunya.
kenapa ya pus aku harus ngerasain perasaan ini?
kali ini pusi menggosek-gosek bulunya di kakiku.
pus ayo dong jawab, akukan pingin dengar pendapat kamu?
akhirnya dia mengakhiri diamnya, meong..., meong... pertanda dia lapar.
kamu lapar ya pus, yok kita mam dulu.
enaknya bila melihat kucing sedang makan, seakan tak pernah memperdulikan
akan esok hari. akan sulitnya beradu dengan ketampanan kucing-kucing yang lain.
tak perduli akan kekecewaan tidak dicintai oleh jenisnya. karena mereka merasa
akan laku, meskipun mereka tak pernah menanyakan apa kucing cantik akan
mencintai mereka? dasar... aku terlalu gila akan perasaan ini mungkin sudah
mendekati sedikit gila, kenapa aku harus samakan dengan perasaan kucing. mereka
kan nggak perlu menyatakan cinta, kalo mau itu ya... dimana saja bisa itu,
meskipun lawan mereka pernah mencintai kucing lain yang lebih lucu dan manis
misalnya.
***
Tak terasa jam telah menunjukan pukul tujuh lewat sekian detik, tapi
hujan belum juga reda. suara gaduh mulai bermunculan dari beberapa kamar
disebelah kamar kosku. semua menyanyakan kapan kiranya hujan ini akan reda. misalnya
pasangan keluarga mbak Nensi disebelah kamarku, mereka harus menempuh jarak
berpuluh kilometer untuk bisa menjangkau kantornya, namun hujan belum juga
reda.
Rintik ini masih terus mendekati ujung kepalaku. sedikit kuhindari namun
tak mungkin kulewatkan rasa nyaman berada di bawah guyuran lembut rintik hujan.
banyak teman-temanku yang berlari kecil untuk cepat sampai di sekolah namun
buatku suasana ini terlalu indah untuk dilewatkan dengan berlari. dua ratus
meter dari pandanganku kulihat tubuh yang tertutup oleh payung, yang menyimpan
wajah pemiliknya. jalanya begitu sempurna seirama dengan lantunan hujan. siluet
yang dibentuk dari rintik air diatasnya semakin terlihat indahnya lukisan alam
bersatu dengan nyatanya manusia.
Kamu memang terlalu indah untuk dimiliki Key, ijinkanlah untuk berapa
waktu lama kunikmati indah siluetmu diantara ributnya rintik hujan, diantara
penatnya fikirku, diantara keegoisan hati yang belum rela melihat dirimu jadi
miliknya.
Payung itu terangkat, wajah indah didalamnya perlahan terlihat, senyum
indah khas pemiliknya terbingkai seperti biasanya. pikiran ini tidak dapat
mereka-reka apa yang sedang terjadi dengan maksud senyum itu, ditambah lagi
dengan keadaan mematung badan itu didepan gerbang sekolah.
Pagi Ga, sapanya lembut.
Pagi jawabku tak kalah lembut, mungkin hanya aku saja yang dapat
mendengar suaraku tadi.
Nyantai banget sih? nanti sakit loh maen ujan-ujanan.
menurutku tak perlu kujawab pertanyaannya, kujawab saja dengan senyum
tipis, semoga dia maklum. tubuhnya sekarang mulai merapat kearahku, membagi
payungnya denganku.
Kemarin kamu nggak apa-apakan? tanyanya memastikan kejadian kemarin
nggak. sambil ku mencoba keluar dari diameter payungnya.
sini bareng aku, ngapa malah ujan-ujanan sih? ajaknya padaku.
kujawab dengan menatap langit menantang turunya air hujan. mungkin dia
merasa sosok yang diajaknya bicara terlalu angkuh diapun memisahkan diri di
depan perpus.
B i a r k a n . . ., I n d a
h seperti i n i
Jangan K A U biarkan lagi D I A terluka
sisihkan rasa cinta yang kau miliki untuk M E R E K A
karena sungguh ada parit lembut dihati kita
maafkan aku ya Key, yang terlalu takut
takut untuk mengutarakan ini
takut akan .......
Labels: Jogja Disini Masih Ada Cinta
0 Comments:
Post a Comment
<< Home