Di Ujung Charotis
Beginikah
rasanya cemburu
Seperti
memiliki perasaan yang diburu
Aku
adalah orang yang keras hati
Tak
pernah merasakan kesungguhan hati
Hingga
dilereng pendakian terakhirku
Ku
berjumpa jatuh hatiku jadinya
[Lereng
Manglayang 2008]
Mataharinya
terlihat begitu besar dan indah. Ucap Key padaku.
”itu
namanya ilusi optic. jawabku tanpa menatapnya.
Ilusi optik?
tanyanya sedikit bingung.
”ya,
pernah nggak sih kita melihat benda besar padahal ada benda besar
disekelilingnya”.
Maksudnya?
tanyanya lagi.
”seperti
ada pegunungan, sawah, pepohonan, yang lebih jelas dan besar dihadapan kita.
tapi, benda lain yang menjadi pokus optik kita kita bilang lebih besar”.
Kamu
ngerti banyak ya Ga.
”nggak
juga, mungkin karena sering baca dan lihat lukisan aja, jadinya kayak gini”.
Tapi,
besok kalo ada cewek bilang gitu kamu harus jawab.....
”yang
jelas bukan kayak jawabanku tadi ya?” tanyaku malu.
Ya, tapi
coba kamu pahami apa makna ucapanya.
”ok, kalo
gitu aku ulang”.
Telat,
aku dah kasih bocoran. Lain kali aja, tapi bukan sekarang.
Perbincangan
di pagi hari nun jauh dalam kurun waktu 7 tahun kebelakang, dalam acara persami
PASKIBRA dilapangan sekolah, didepan tenda setelah melakukan olahraga pagi.
Kini terbayang kembali dalam suasana yang berbeda, suasana dimana telah lama ku
lalui, suasana dimana aku merasa telah berada pada batas ujung charotis sebuah pencarian.
Aku mulai biasa dengan kata
IKHLAS
Sebuah kata yang menurut ku
tabu sebelumnya.
Kata yang kamu keluarkan
tanpa paksa dari bibirmu
Sebuah makna dengan sarat
kata akhir dari perjuangan
Bukan artian pasrah dan
harus kalah menerima. Tetapi,
Perasaan dimana kita menang
dalam pergelutan dengan hari
Serta deburan gulungan ombak
waktu dan terik wajah matahari
***
Pagi yang
harusnya di awali oleh senyuman, dan tegur sapa menyejukkan. Bukan debat
argument yang menyesakkan serta meninggalkan jejak luka. Tapi semua itu pasti
memiliki berbagai makna dari arti perdebatan pagi itu.
Kamu
kenapa sih Ga, kok diem aja dari awal masuk tadi aku perhatikan? Tanyanya
padaku.
(tak ada
jawaban dariku)
Ga,
please dong jawab aku? Harapnya cemas.
(aku
masih bangga dengan kebisuanku)
”apaan
sih Key,” jawabku lirih tanpa ada sedikitpun ekspresi melekat di wajahku.
Tuhkan,
kamu mah ngga pernah bisa sedikit aja mengutarain maksud diemnya kamu. Kenapa
sih Ga, kamu tuh selalu membiarkan semuanya jadi asing.
”asing
apanya?” tanyaku dengan sedikit senyum sinis.
Aku
ikhlas menunggu kamu sampai kamu reda dalam diemnya kamu Ngga.
”ikhlas,
gimana bisa ikhlas kalo Cuma kamu yang ngerti”. Bantahku tak terelakkan.
Makanya
aku tanya kenapa kamu kayak gini? suaranya semakin lirih rendah terdengar.
”Cuma
kamu yang bisa tau kenapa aku jadi gini”.
Akupun
berlalu dengan perasaan yang bercampur baur. Salah nggak aku berlaku seperti
ini dengannya? Tapi aku masih belum bisa terima, dengan apa yang aku rasakan
sekarang.
***
Kamu
harus bisa ikhlas ngejalanin hubungan ini, kalo kamu nggak bisa jalanin
hubungan ini, dengan ikhlas. Kita nggak akan pernah tenang ngejalaninya.
”contohnya?
Tanyaku.
Kayak aku
jalan sama siapa gitu, yang aku pinta kamu bisa ikhlas dan percaya satu sama
laen.
”tapi aku
nggak bisa buat kayak gitu”. Tegasku
Yaitulah
perlunya percaya dan ikhlas, aku juga nyoba buat itu. Kayak kamu jalan sama
temen-temen cewek yang laen, bercanda sama dia orang.
”ok, aku
coba”. Maaf tapi kalo aku terlalu egois selama ini.
Kita
sama-sama coba nggak Cuma kamu aja tapi aku juga.
Lamunan
itu kini hanya bisa aku nikmati, sebagai kenangan indah yang pernah tuhan
titipkan melalui dirimu Key. Kenangan yang akan selalu aku jaga hingga pada
hari penantian nanti, meski kita nggak bisa bersatu di dunia. Mungkin akan
banyak hati yang datang silih berganti mencoba menemani, tapi percayalah
seperti ucapanmu waktu itu. Aku akan selalu percaya dengan apa yang sedang kita
jalani, karena rasa ini bukan sekedar terbentuk dalam 1 atau dua hari.
Melainkan, telah terbentuk selama 1 tahun kebersamaan kita, dalam naungan rindu
yang kini menggumpal di dinding hatiku.
Labels: Jogja Disini Masih Ada Cinta
0 Comments:
Post a Comment
<< Home