Ai Sezu ni Kotoba
Angga, seandainya kamu mengetahui begitu banyak arti dari kediamanmu.
“lantas apa coba, arti dari kediamanku”. Kaya’ kamu tau aja
Serius ini Ga…… ucapnya manja
“udahlah nggak usah terlalu berpuitis, aku ngga paham”. Jawabku
Giniloh… diamnya kamu itu banyak arti, tapi aku suka dengan semua kediamanmu yang menambah kemaskulinan serta naturalnya kamu sebagai seorang laki-laki dimataku.
“alah gombal, emang semua temen cowok kita kaya’ gitu kali…. Ga’ Cuma aku aj”. Jawabku telak.
Ah, udah ah. Males ngomong serius sama kamu, seandainya kamu tau awan dibalik ucapanku.
“lo, Nit. Ko’ kamu malah pergi sih. Sini dulu temenin aku, masa aku ditinggal sendirian kaya’ gini sih di depan sinih. Kamu kira aku ini siapa, satpam?”
Bodo. Jawab nita ketus
Mungkin aku manusia bodoh Nit, yang ngga’ pernah mengerti arti ucapanmu. Tapi, aku memang ngga’ pernah mau tau. Aku mencoba ngga’ mau tau akan apa yang kamu rasakan, aku ngga’ mau tau dengan apa yang terjadi nanti antara kita dan aku ngga’ mau tau kalo sebenarnya ada perasaan lain denganmu. Semua perasaan itu sengajaku bungkus dengan ketidak ingin tahuan atas pertemanan kita selama ini karena aku menyukai temanmu, Keyrina. Maafkan aku…… ucapku lirih, hingga tak seorang pun dapat mendengarnya termasuk aku.
Awang-awang yang hampir jadi dan indah kini buyar, setelah semua awan itu dihapus oleh teriakan suaranya di telingaku.
Ga………………!!!, hayo ngelamun jorok ya? Dasar museum.
“weiiiiiit, ngomong enak neh, sembayangan. Emang kamu kira aku ngebayangin apa getoh? Sok tau, balasku tak mau kalah”.
Tau, iseng aja pengen nge-gangguin kamu. Baru aja ditinggal kebelakang lima menit, udah ngelamun. Kaya’ mbah-mbah aja kamu, sok berfikir.
“beuuuuu, ini nih yang suka ngerusak generasi zaman sekarang. Pemuda itu harus banyak memikirkan sesuatu yang akan membuatnya change. Baik buat dirinya sendiri atau buat orang lain yang mungkin bisa membuat perubahan untuk negaranya, tul ngga’”. Aku minta persetujuan
Widih…………… tumben ada isinya tuh otak, makan apa tadi? Omongannya sedikit berat getoh, hehehehehehe……
“mulai deh, aku kelitikin nih”.
Jangan-jangan Ga ampun, nti aku ngompol disini emang kamu mau beresin?
“sori ya,ogah. Wah, ketauan nih kalo Nita masih suka ngompol”. Ledeku
Udah ah berjanda mulu, neh kopi neh. Tadi aku buatin dibelakang, baikkan aku, ucapnya sambil membuang wajah tersipu malu.
“o, ternyata kamu kebelakang bikin kopi to? Aku kirain kamu ngompol,hehehe…”.
Dasar koplak, nek ngomong ra tau beneh. Sak karep wudele dewe, dasar bodong.
“weleh, weleh, weleh, bisa bahasa jawa juga to kamu Nit? Ejeku lagi”
Lo, aku kan dah 2 tahun di Jogja. Menghina kamu ya, kamu kira aku sebodoh apa?
“ah, dah sore… pulanglah. Aku pulang dulu ya nit, makasih lo kopinya”.sambil berlalu tanpa menoleh kebelakang
Dasar sinting, pamitan asal ngeloyor aja. Ya…………… ati-ati kalo ketabrak sepeda bangun sendiri.
***
Artikulasi dan imaji yang terpatri
Lelah jurang yang menjorok membentagkan asa
Sekelumit refleksi elegy terjaring sudah
Meski tatanan indah verbal dari lekuk fikirku
Menelanjangi semua akal yang selalu terselimuti oleh
Sebuah keterpanaan oleh relung angkuh sebuah jiwa
Karena, Cinta tanpa Bahasa
Dalam perjalanan menju kos-kosan dari asrama, aku sengaja ingin melintasi lapangan bola di tengah desa. Hanya sekedar ingin melihat teman-teman desaku bermain bola. Tapi karena buatku sepak bola adalah dunia yang selalu mengalihkan kehidupan normalku. Karena bola adalah perjuangan, dimana setiap guliranya menggelinding di atas lapangan merupakan sesuatu yang pantas untuk dipertahankan.
“Angga…”, teriak temanku dari seberang lapangan.
Aku hanya melambaikan tangan saja dan sedikit melempar senyum yang mungkin dilihat atau tidak oleh mereka. Sambil menyebrangi tengah lapangan untuk mendekati mereka.
“Ga, ikut maen yuk?” Ajak Anto temanku.
Aku gak bawa sepatu bola je…,
“la emang kamu dari mana to?” Tanya temanku lainnya
Situ tuh, asrama putri.
“wah, curiga akoh, hayo ono opo to, kok kamu sering ke asrama puteri?” Tanya Febru menyalip teman yang lain.
Alah, nggak ada apa-apa kok, cuma maen biasa aja.
“kayak nggak pada nyadar to, Angga kan lagi kena kasraman sama si Keyrina”. Teriak Anto menyekakku
Jangan pernah percaya Anto, percaya sama omongannya sama aja sama musyrik. Jawabku ngeles dengan sedikit bercanda ala bajaj.
“uwes yook kita maen, ngobrol terus bisa-bisa keburu malem. Nggak jadi maen nanti, nggak dapet keringet, ujungnya nggak pegel-pegel, nggak tidur nyenyak, nggak sehat deh”. Cerocos Siget panjang kali lebar, sama dengan volume bicara yang berlebih.
***
Sehabis main bola dengan anak-anak desa, rasanya semua isi perut terkuras dan semua usus duodenum, jejunum, atau semua system gastrointestinal unjuk rasa. Karena, isi perut kosong mereka semua melakukan unjuk rasa, unjuk rasa karena mereka tidak melakukan pekerjaan apabila tidak diisi sumber produksi buat energi.
Si lambung yang biasanya bekerja keras menggilas sumber produksi kini marah, dengan menggilas mesin penggilasan sendiri. Akibatnya, simesin akan terkikis aus hingga menyebabkan karat dan luka pada mesin. Bisa berakibat patal bila di biarkan terus menerus terjadi. Inilah awal mula terjadinya gejala penyakit gastritis atawa orang biasa bilang magh.
Kerja duodenum dan jejenum yang menyerap sari makanan hasil produksi dari lambung, kemudian di metabolic ke aliran darah dan di distributorkan kesemua persarapan hingga sarap terujung yang mengakibatkan terjadinya mobilisasi, kini berhenti menjadi lemas. Karena tidak ada hasil produksi yang harus di daur ulang untuk menjadi energi.
Inilah awal mula orang mengalami malaise atau orang biasanya bilang, lemas, letih dan lesu. Ini dapat mempengaruhi pergerakan kita, bila protes mereka tidak dipenuhi. Aku yang sekarang kehabisan H2O bisa-bisa dehidrasi dan terkapar di pinggiran jalan menuju kos-kosan.
Sambil mendegarkan protes dari mereka, aku sengaja melewati jalan kekosan menuju pasar Pakem. Pikirku, jam segini pasti jajanan pinggir jalan pasar sudah pada pasang standnya. Pasar Pakem jarakya tidak begitu jauh dari kosku, ya sekitar 400 meteran lah.
Sesampainya di jalan besar perampatan pasar aku bingung harus berhenti di tempat makan mana? Tapi, pertanyaan hatiku terjawab setelah mataku tertempel pada tulisan spanduk bertitelkan Mie I am Pak Kribo. Letaknya adalah dipinggir jalan pasar Pakem, tepatnya dipinggir jalan Kali Urang, Km 25.
Mas pesen mie 2 bungkus kayak biasanya ya. Ucapku
“siip, minumnya es jeruk to?” Tanya pedangang yang melayani
Nggak salah lagi, apal banget.
“la wong sering nonkrong disini mosok nggak apal to mas-mas”.
Heheheehe, tak kirain nggak ada yang ngenalin aku lo. Kan aku sekarang lagi dalam penyamaran, sekarang ini aku lagi pake wajahnya Kritik Roshan. Ucapku mencandai mas Bokri si pelayan.
“walah-walah, mas Angga ini bisa ja. Jawil mas bokri sambil melanjutkan menyajikan mie ayam pesanan orang lain yang sudah dulu memesan.
10menit menunggu sambil melihat lalu lalang pengemudi jalan melintasi jl kali urang. Ada yang kearah Kali Urang, mungkin untuk berpariwisata, menikmati keeksotisan daerah pegunungan Merapi. Untuk mencari makan di café-café daerah pegunungan yang menyuguhkan nuansa dingin dan panorama yang indah. Atau hanya sekedar pulang kerumah setelah seharian lelah bekerja. Ada juga yang dari arah Kali Urang ke arah kota Jogjakarta.
Mas ki pesenanne wes dadi, toel mbak Tik padaku sambil menunjukkan 2 bungkusan pelastik hitam. Yang sudah pasti pelastik hitam satu berisi mie ayam dan yang satu lagi berisi es jeruk.
“berapa mbak?”Gurauku pada mbak Mentik.
Oalah mas Angga nih suka becanda, ya biasanya lah mas 8000,- aja. Jawabnya
“eeee, aku kira dah naek mbak. Kan sekarang lagi krisis moneter, semua-semua harga pada naek. Kalo udah naek, suka males buat turun. Kata harga-harga, kalo diatas enak sih”.
Ah, mas Angga ini suka guyon ya. Awas lo nti aku ledekin abis-abisan. Ancam mbak mentik sedikit memasang wajah serius.
“wah, nggak bakal sempet lo mbak, la sekarang aja dah maghrib kayaknya aku kudu muleh. Trus nggak tau kapan mampir sini lagi, hehehe”.
Ya udah sana kalo mau pulang, ribet kalo ada mas Angga mah. Bisa-bisa nanti pelanggan yang laen nggak ke dodoli, la wong keasyikan bercanda sama mas Angga.
Aku pamet ya, yok mas Bok. Kata terakhirku saat mulai meninggalkan warung mie ayam.
Baru saja keluar dari warung aku sudah berpikir lagi. Kalo makan mie ayam doang, nanti aku bisa cakit peut neh. Ah,mampir di warung petengnya mas Supri lah, gumamku.
Mas Supri nan baik hati dan suka berbagi, rayuku membuka pembicaraan.
“mangap Supri yang anda cari sedang tidak hadir. Jawabnya sedikit guyon (bergurau)”.
La yang mangap barusan siapa? Tanyaku pada suara di balik warung, tempat cucian piring.
“ini Pri, satu-satunya Peri lai-laki” Hehehe, sambil keluar dengan senyum sumringah khas kepunyaan mas Pri.
We…, nggak nyangka, ternyata mas pri memang terlihat seperti satu-satunya peri laki-laki.
“asal nyerocos, mang no kowe wes tau reti peri ki wedok opo lanang Ga? Ejeknya telak, membalas ucapanku tadi.
La bukanya situ yang bilang situ peri laki-laki satu-satunya, lak berarti semua peri wedok to? Jawabku tak mau kalah.
“wes-wes, angel arep menang seko koe mah. Arep tuku opo?” Tanya mas Pri padaku.
Sego kucing 4,tempe tahu telongewu (3000) jadi kabehe mangewu (5000)to? Tanyaku.
“7000 jawab mas Pri tenang”
Dari mana itung-itungannya itu? Tanyaku meyakinkan
“seko utangmu wingi gek njileh det 2000 nggo nombok’I tuku lombok”
Hehehe, lali sori ndori switi teti di entup meri. Nyoh, sambil menyodorkan uang 7000 dengan pecahan koin semua. Lunas to utang-utangku, tanyaku meyakinkan.
“belom, kamu masih punya utang bayarin maen PS di Sinar Jaya minggu besok”.
La nggak malem ini aja to? jawabku meledek.
“nggak iso, malem minggu sekarang banyak terayek”.
Ok, aku pamit nek ngono.
“yoh kono, sek adoh lungamu”. Jawab mas Pri sambil mengusirku.
Oia Sego kucing itu adalah sebutan makanan rakyat jelata yang artinya nasi kucing, ada yang mengkliam makanan asal dari Solo, dan ada juga yang mengklaim dari Jogja. Tapi, yang jelas nasi kucing itu unik, bukan karena nasinya bekas makan kucing, atau pake daging kucing. Melainkan nasi yang didalamnya terdapat sayur tempe pedas, dengan kemasan segenggam tangan orang dewasa, atau seukuran untuk memberi makan kucing. Makanya, makanan tadi sering disebut dan tenar di kalangan siswa atau mahasiswa perantauan dengan sebutan Sego Kucing.
Harganya yang relatip murah dan terjangkau oleh kocek pelajar dan mahasiswa. Cukup mengeluarkan duit 500 rupiah saja kita sudah bisa menikmati dan mencicipi nasi kucing ini. Dengan romantisme nuansa warungnya yang remang-remang karena hanya di terangi oleh lampu ublik atau orang jawa sering menyebutnya sentir. Serta kehangatan para pengunjung dan penjajanya yang ramah, akan membuat suasana makan menjadi lahap dan nyaman. Mungkin itu berlaku hanya pada masyarakat dengan ekonomi sedeng ke bawah. Nggak tau kalo orang kaya raya yang merasakan makan nasi kucing, di warung peteng, di emperan jalan.
Tapi buatku makan nasi kucing bisa menandingi makanan Eropa seperti; lasagna, sphagetti, pizza, dan makanan lainnya. Karena rasanya yang khas dan meninggalkan jejak kerinduan bagi setiap para penikmatnya.
***
Sudah kulahap abis semua makanan yang aku pesan tadi, kusisakan dua bungkus nasi kucing untuk nanti malam. aku takut malam nanti aku pasti kelaparan dan mulai mengigau untuk menggedor warung nasi yang sudah tutup, dan itu pasti akan sangat membosankan.
Jengkang, jengking, jengkang dan jengking lagi....
ini perut kok tiba-tiba mules yak? perasaanku, sambil coba melerai perasaan sakit yang terus menggoda akal sehatku. dari proses jengking dengan gaya yang unik tadi menurutku perutku mulai reda memberikan signal bahwa dia muales. eh....., aku lihat bola basket di pojok belakang pintu, dia menarik perhatianku. kuhampiri dia, tanganku mulai menjambak botak bulat bentuknya.
kuangkat lagu kubentur-benturkan tubuhnya kelantai, kuangkat lalu ku putar bulat bentuknya di ujung jari telunjuku. kuhentikan tingkahku tadi dan kubenturkan lagi tubuhnya kelantai.sadar sudah membuat kegaduhan, aku mulai menghentikan kegiatanku and then i move to staircase. to bring the ball toward the basketball court.
I want this night sweats, seperti halnya seorang yang menggila karena sesuatu yang belum jelas juntrunganya. semua ini akibat sebuah virus yang bernama virus merah pink. sebuah rasa yang dititipkan tanpa kompromi sebelumnya dan tak jua berbincang apakah kami manusia mau ditipi rasa yang tidak jelas bentuk, warna dan baunya. namun hanya sebuah rasa yang meninggalkan asa menyakitkan hingga menyiksa.
Hocus fokus,menjalari seluruh tubuh. mendribel dari satu sudut kesudut lain, dari pantulan bola ring basket satu ke ring lain. berputar, menggeliat mendribel lagi, shoot on the ring
kakiku melangkah dengan percaya diri.tak lama berlalu sang tubuhpun penuh dengan peluh walau sedikit rapuh dan kemudian lelah. kali ini aku benar-benar berhenti. tidak akan mengulangi lagi membanting tubuh bola itu untuk mengitari lapangan.
Aku jatuh dan terlentang keudara, meresapi buaian angin yang seakan tak pernah letih menjadi teman. menemaniku saat aku merasa kepanasan, tanpa harus ditampar menggunakan kipas sate, atau diputar oleh kipas listrik, dia sadar mengerumuniku untuk membuat sejuk sejenak. mataku terkesiap melihat gugusan bintang, teringat malki wayku yang lama aku tinggalkan, terpesona oleh susunan balok tak beraturan di angkasa, tersepona oleh senyum manis lingkar oktaf di sekeliling bulan penuh.
Wajah lembutnya perlahan mengisi guratan-guratan awan, semakin jelas saat kupejamkan mata. wangi parfum yang biasa dia gunakan pun semakin lekat dipucuk bibir pintu hidungku, seakan semua terasa nyata, lirih dalam hati berkata. Key... aku kangen kamu.
Aku jatuh dan terlentang keudara, meresapi buaian angin yang seakan tak pernah letih menjadi teman. menemaniku saat aku merasa kepanasan, tanpa harus ditampar menggunakan kipas sate, atau diputar oleh kipas listrik, dia sadar mengerumuniku untuk membuat sejuk sejenak. mataku terkesiap melihat gugusan bintang, teringat malki wayku yang lama aku tinggalkan, terpesona oleh susunan balok tak beraturan di angkasa, tersepona oleh senyum manis lingkar oktaf di sekeliling bulan penuh.
Wajah lembutnya perlahan mengisi guratan-guratan awan, semakin jelas saat kupejamkan mata. wangi parfum yang biasa dia gunakan pun semakin lekat dipucuk bibir pintu hidungku, seakan semua terasa nyata, lirih dalam hati berkata. Key... aku kangen kamu.
***
Mataku mulai sepet mengamati angka-angka dan beberapa soal cerita dari sebuah buka yang sedari tadi tidak jua aku baca,ku pahami, dan ku kerjakan. apalagi setelah aku membaca soal seperti ini ;
1. dari data runtutan spektometer massa , diketahui bahwa unsur karbon memiliki 3 isotop, yaitu C-12 dengan massa 12,00 sma dan kelimpahan relatif 98,89%, C-13 denganmassa 13,00 dan kelimpahan 1,11%,dan C-14 sangat sedikit. jumlah Ar dan C adalah…………….?
Reaktum dimana sebuah molekul yang berasal dari inti atom sebuah dzat terkecil dan terumit yang menreksikan rumusan-rumusan sulit berkapiler membuat rantai ikatan senyawa yang membuat otaku semakin panas. tak sanggup lagi aku terus memperhatikan angka dan senyawa pada tabel ini, dengan berat hati kupejamkan mataku dan memulai menelaah mimpi yang indah dalam tidurku yang akan kujelang.
Sebuah proses fisika yang bertanggung jawab dalam interaksi gaya tarik menarik antara dua atom atau molekul yang menyebabkan suatu senyawa diatomik atau poliatomik menjadi stabil. Penjelasan mengenai gaya tarik menarik ini sangatlah rumit dan dijelaskan oleh elektrodinamika kuantum.Inilah yang di reaksikan dari sebuah Endorfin, hingga membuat setiap manusia seakan kecanduan untuk semakin mengerti arti virus merah pink.
Pukul satu dini hari dan hayalanku membaur menjadi sebuah senyawa tak padat, sebentar lagi gumamku... lalu nampaklah dia setengah sabit malu keluar dari sudut langit, mataku terpejam, bibirku maju beberapa senti. indah...,hanya kata itu yang bisa aku ucapkan.
Antara sadar dan tidak, pukul satu dini hari aku sudah berada diatas loteng balkon bangunan jemuran pucuk kosanku. dengan mata setengah terpejam, dan kantuk yang begitu berat karena mabuk logaritma beserta rumus kimia petang tadi. pagi ini angin begitu tenang tak seperti biasanya, langitpun tak lagi hitam, melainkan sedikit putih seperti saat siang hari. pemandangan ini sering aku temui, bukan gerhana matahari kan fikirku? sambil terus memjamkan mata.
Hehehe..., ada yang aneh, darimana aku bisa tau kalau sekarang jam satu? pasti kalian semua bertanya-tanya? padahal mataku terpejam, dan aku masih dalam kondisi mabuk yang membingungkan karena hocus fokus. sesuatu yang janggal bukan? tapi buat aku itu hal biasa, karena aku memiliki radar tersendiri pada bagian pori-poriku. tentunya dalam hal menentukan cuaca, lebih eksentrik bila disebut dengan feel touch.
Jelasnya adalah jika pukul satu pagi di Jogjakarta penjaga keamanan alias siskamlingnya akan berpatroli sambil memukul kentongan atau tiang yang mampu memberikan bunyi dalam satu kali pukulan. meskipun setiap kali kita berusaha mencari siapakah yang memukul besi atau kentungan itu tidak jelas wujudnya.hehe, sekarang rasa penasaran kalian pasti sudah terbayarkan, dengan jawaban dariku kan.....? hayo, ngaku...? nggak usah malu kalee...? biasa aja, anggap kita belum pernah ketemu.
Huit..., perut ini mulai sakit lagi, rasa sakitnya agak berbeda dengan petang tadi. radar laparku mengingatkan bahwa di atas meja tepatnya menggantung diatas dinding ada sebuah pelastik dengan dua bungkusan nasi kucing dan beberapa potong tempe yang belum disantap. liur di mulut langsung menarik kaki dan jemari tangan untuk menghampiri, dengan mata tetap terpejam;
Hoaammm..., dapat sudah apa yang ku mimpikan, sebuah plastik hitam dengan isi yang baru saja dideskripsikan. namun tubuh ini lelah karena mabuk oleh hitungan eksak yang jelas membuat semua orang yang tidak kuat akan muntah, oleh angka-angka rumit nan membingungkan.
Arrgghhhh, aku hanya bermimpi. ternyata aku hanya terpejam beberapa menit, masih kudapati buku berserakan dibawah kaki dan di hadapanku. buku tulis yang biasa aku gunakan kini sedikit basah pada bagian ujung bawahnya. sudah pasti sedikit bau akibat air liur yang sedari tadi menetes, dan baru sadar ku elap dengan sedikit seruputan dari dalam bibir.
masih jam sepuluh malam rupanya, dan aku harus terbangun karena mimpi yang membingungkan. mengapa harus ada mimpi, jika tidak ada jawabanya? mengapa harus ada tidur bila mimpi ikut didalamnya? mengapa harus ada lelah hingga tidur diciptakan? mengapa harus tidur intinya, dan yang paling aku bingungkan kenapa sih mimpi selalu hadir saat kita tak ingin bermimpi?
Kembali kemasalah mimpi, jika jatuhnya pada saat kita tidak tidur ada yang bilang namanya mimpi disiang bolong. jika waktunya pada saat kita sedang menghayal disebut mimpi belaka, seandainya datangnya sebagai sebuah harapan dan yang jelas tidak dengan tidur aku sebut itu mimpi atau cita-cita, meski intinya tetap berandai dan disiang terik yang tidak bolong.
Aku beranjak ke tempat tidurku, dan tidak lagi mau bermimpi sambil memeluk buku dan membuatnya basah kuyup. serta membuat peta pada bagianya, ini memalukan. dan sekarang aku benar-benar akan merajut mimpi di malam yang tidak bolong, zzz '''''??
***
Hari ini libur...tanpa ada penjelasan dari sekolah, dan meskipun sekolah tidak libur, namun buat aku hari ini libur, titik. libur diluar dugaan, aku harus merelakan beberapa mata pelajaran tertunda tanpa harus aku ikuti, yang lebih parahnya lagi matematika dan kimia hari ini ada test pengambilan nilai. untuk membantu nilai semester bulan depan. tapi aku tak pusing memikirkan semua itu, karena aku libur.
Sebelum hendak pergi kesekolah tubuh ini rasa-rasa tak enak, seperti makanan yang kurang garam, hambar. atau tidak menggunakan gula, campa. seperti nama kedua teman kembarku hambar dan campa wati. kakak beradik yang manis dan ayu namun namanya lucu.
Kembali kemasalah libur, sekarang aku libur karena badanku minta libur. rasa pusing dan mual karena mabuk angka semalam berimbas kepada tidak enak badan serta meriang, alias aku dem-am. aku sudah minta buatkan surat dan menitipkan surat tersebut melalui tangan kakaku sendiri, Dwindles.
Karena memang kakaku lah yang menjadi waliku disini sekarang, dengan semua masalah yang dia miliki dan aku miliki, kami tetap bersaudara. aku bersyukur ada dia meski kadang malas mengungkapkan, karena aku tau diapun bosan memiliki adik sepertiku. tapi nggak masalah, karena aku sudah sering dan faham akan kejailanya dimasa lalu. sekarang giliran dia mendapat imbas dari sikapku disekolah, inilah gunanya kakak,wkwkwk.....
Aku masih tidur, tadi sudah minum obat. dan sekarang lagi tidur, rupanya ada yang membuka pintu kamar. aku kira ibu kos? nggak taunya kakaku. Dia datang membawa bungkusan nasi dari kantin sekolah, sengaja dia bawa agar aku bisa makan lalu minum obat. sekarang aku sudah melakukan keduanya, dan dia kembali kesekolah.
Jam setengah satu sudah, jam weker di atas meja yang memberi tahukan aku jika sekarang sudah jam satu. kenapa kakaku belum pulang ya..., ternyata aku sedikit merindukanya.mohon maaf, bukan karena melancolis atau manja, tapi ini karena badanku semakin tidak menyenangkan. sekarang terasa panas menjalar diseluruh tubuh hingga keubun-ubun, sepertinya aku sedang masuk dalam panci pengovenan. aku rindu....., aku kangen....., aku ingin bisa bertemu lagi dengan main bola,titik.
Ku kayuh sepedaku menyusuri jalanan dan melintasi lapangan biasa aku bermain bola. namun, badanku semakin tidak enak. aku benci dengan semua ini, dengan angin yang tak bersahabat, dengan kayuhan kakiku yang semakin lambat, dengan mereka yang memandangku dan tak mengajak, dengan dirimu wahai badan yang mulai tak kuat. akhirnya aku hanya berdiri dan duduk meringkuk dipinggir lapangan, menyaksikan temanku asyik bermain bola sedang aku tersiksa.
Aku pulang, dengan dendam yang tak kunjung padam kepada sakit yang semakin menjadi hingga badanku sedikit menggigil. aku lemas, i'am give up.
Aku terkulai lemas dibawah selimut biru tipis milik Ibu. mataku berair bukan karena menangis, namun karena suhu tubuhku yang semakin meninggi. i need some drug for my body, aku benar-benar need it. brother please come back now, rintihku dengan badan yang semakin meringkuk dan tangis yang semakin menjadi.
Kakakupun pulang, wajahnya seperti aneh melihat tubuhku yang mulai lemas tak bernyawa. Dia lalu dengan sigap menggoyang sendok yang sedari tadi dia pegang beradu dengan gula serta air panas didalam gelas, yang sudah dia taburi sedikit teh ganja. kebanyakan orang sering menyebutnya dengan teh tubruk.
Finally...,
Aku ke dokter juga, lebih tepatnya ke puskesmas yang pas lagi ada dokternya. sering kali puskesmas didesa ini tidak ada dokternya. kebetulan si dokter lagi ada di puskesmas, karena baru saja dari Jogja kota, dan alhamdulillah aku langsung di kasih obat dokter. jadi pengen sakit terus...., liat dokternya cantik banget. walaupun anaknya sudah dua, tapi sumpah nih dokter cantik ajib.
Kayaknya nggak usah minum obat dah sembuh deh, kalo dokternya cantiknya kayak gini. dengan wajah sedikit semu merah dan senyum-senyum nggak jelas tanda ngarep.
***
Sepertinya sakit ini mulai resah, karena dua hari sudah dia dihajar oleh pasukan antibiotik dan penurun panas. mereka bahu memundak untuk menyingkirkan kedikjayaan penyakit yang masuk di badanku. sekaligus bersama dengan sugesti dokter cantik yang semuanya membuat menjadi lengkap.
Agak enakan nih, maen sepedah ah...
Dengan sedikit badan yang lunglai aku sigap menuruni anak tangga kamar kos ku, kuhampiri sepeda yang dari kemarin tertambat di pohon kamboja samping kamar, dekat sumur, diantara patung putri yang fulgar tanpa busana.
Ada yang aneh, fikirku sejenak. Ada yang tidak nyaman, kucari semua masalah pada sepeda dan sesuai dugaanku, sepedaku tidak ada bannya. Ternyata sepedaku masih ada bannya, cuma ditinggalkan oleh penghuninya. Angin-angin pada sepeda itu telah berpindah tempat, bermutasi menjadi sebuah senyawa tak tersentuh, bercengkrama dengan tenangnya bersama dengan atmosfer alam raya. Menyebalkan........ gumamku sedikit gusar, karena sudah pasti aku gagal untuk bercelana mengitari desa.
Akupun kembali lagi ke kamarku, masih dengan wajah lesu. aku diam dipinggir teras memandangi belukar dibelakang kontrakanku. ada yang bergoyang-goyang diantara rerimbunan pohon salak. seperti mengajaku untuk menari kesana, atau menikmati indahnya dan manisnya, rasa buah salak. hehehe..., aku tiba-tiba ngileur pisan. pingin mencicipi buah salak hasil tanaman tetangga, yang sudah pasti kutahu pelit orangnya. ah maling dikit ah, fikirku sambil kemudian melompati pagar kamar kos ku, hassseeekkk.
Dapat sebongkoh, dan makan beberapa buah di bawah pohonya langsung, cukup sudah bagiku. sekarang saatnya kembali ke kosan, yang pasti lewat jalan pertama aku datang.
Aku sekarang sudah tiduran lagi, tidak mau menceritakan kegiatan yang sedang aku lakukan kepada kalian para pembaca, karena aku sedang tidur. ngantoek tau.
***
matahari dari kanan-kiri. Mataku memicing
ketika terang
menyambut dari depan, dan jalan itu usai.
Berakhir di
sebuah mulut bukit kebingungan yang membuka
lapang. Aku tercengang
Labels: Jogja Disini Masih Ada Cinta
0 Comments:
Post a Comment
<< Home