
matanya nanar mencari seberkas cahaya yang sempat hilang dalam penggalan kepal tanganya, berjibaku dalam bakungan emosi yang grusak-grusuk..... apakah kalian tak melihatnya ? heh sebuah sunggingan sinis meluncur perlahan dari sudut bibirnya, semua bermula karena ketidak pedulian Mereka, Kau, Aku dan Kita ! mengapa harus seperti itu ? meski hati ini sempat berontak, namun apa daya tubuuh ini tak mampu mnelawan dan melakukan tindakan sekecil apapun, maaf kawan. mungkin hanya kata itu yang dapat terselip dalam hati ini.
pandangan matanya kini mulai menghujam kedalam kalbu, periiiiiihhhh....... rasanya perih sekali cara menatapnya kedalam hati ini, mengapa hanya aku ?? mengapa hanya aku yang kau tatap seperti itu teman ?/ kenapa tidak mereka atau dia ?/ atau kita semua yang ada disini meski berjauhan. senyum sinisnya mulai sedikit memudar/namun picingan mata tanda meremehkan kini menggantikan senyuman sinis itu. hingga rasanya ingin ku berlari bermil-mil jauhnya dari tatapan matanya. apa lagi sekarang ? gumamku dalam fikir yang tak sempat aku utarakan.
tubuhnya perlahan bangkit dengan bertumpu pada satu asa yaitu semangat, entah darimana semangat itu dia dapatkan. mungkin dari merendahkan aku, dari meremehkan keberadaanku karena tak berarti baginya. dia angkat batu beberapa yang pas dengan genggamannya, karena hanya dengan itu dia mampu melawan. bukan dengan senjata atau tank-tank besar yang bersembunyi para pengecut didalamnya. atau berada di capung-capung besi yang berkeliaran diatas panasnya gurun rumput.
badan kecilnya mulai berkelit menghindari hujanan peluru yang keluar dari moncongnya, memperlihatkan caranya padaku bagaimana cara menaklukan para pengecut !!! menghentikan laju tank-tank bodoh dan membantai keberanian mereka dengan pandangan yang begitu tajam, hingga musuh mundur kebaris pertahanannya, layaknya raja hutan yang menguasai daerahnya atau sang elang yang menguasai cakrawala.
nafasku terhenti disaat. (dash...!! peluru itu melewati tubuhnya) tapi mata hitam sedunya terlihat semakin garang. meski tubuhnya telah terkoyak oleh beberapa peluru yang menembus kulit hingga dagingnya. langkah kakinya semakin kuat untuk menghancurkan tank besar itu. dan buuuummmmm !! luluh lantah tank itu, berhenti dari pergerakannya dan kini hanya menjadi besi usang saja dengan menyisakan teriakan histeris pengecut di dalamnya.
langkahnya mulai gontai menarik batu yang masih dalam genggamannya, beberapa saudaranya telah terkapar tak berdaya melihat tubuh kuatnya. mereka telah mendatangi waktunya, bersemayam dalam ketenangan dan bermandikan buaian surga sesuai yang telah dijanjikan Tuhan dan Agamanya. terus berjalan dengan kekuatan yang setengah terkumpul memisah dari dirinya, yang aku sendiri tak mampu menemukan maksud di balik semua kejadian itu.
dia tersenyum matanya kini menjadi ramah, bertanya dari hati kehati siapa aku dan darimana asalku ?/ aku diam dengan seribu kebisuan yang kukembalikan sembilan ratus kini tersisa seratus saja dalam tanyaku? apa gerangan yang membuatnya berubah seratus delapan puluh dari titik koordinat sebelumnya. entah eliminasi (xy) atau faktor persamaan kuadrat dalam trigonometri yang membuatnya berputar ?? menjadi seperti sekarang, ramah dan semakin membuat suasana nyaman meski tubuh kami berbalut luka.
tubuhku berbalut luka bukan luka fisik namun luka batin, karena dirinya terluka fisiknya " jika saudaramu terluka maka sebagian dari tubuhmupun ikut terluka " ada apa kawan, kenapa kau tersenyum ? batinku dengan seratus kebisuan yang tak dapat aku mengerti ? dia menjawab dengan pertanyaan yang semakin aku tak mengerti, ternyata ada padamu ? what you mean?/ gumamku dalam ketololan yang semakin membuatku terasa begitu tolol !! hingga tak satupun pertanyaan yang aku berikan dia jawab melainkan memunculkan pertanyaan lain. itu, tunjuknya kearahku ?
beberapa kebingungan masih mengudara disekelilingku, dengan kelinglungan yang semakin jadi. apa, mana tanyaku balik ? kamu yang membawanya. membawa apa? tanyaku dengan sedikit sedih, karena merasa bersalah dituduh olehnya. sesuatu yang aku cari dan inginku sampaikan pada seluruh manusia didunia /. apa itu, yang mana? tanyaku yang memperlihatkan semua kebodohanku.
yang kau genggam, dia semakin yakin menunjuk kearah tanganku. / ini, tanyaku dengan sedikit tersenyum ? yah itu. ini hanya sebuah batu kawan, batu yang sama seperti tadi yang kau genggam untuk menghancurkan musuh kita. batu yang akan menjadi saksi betapa kuatnya dirimu dalam sanubari ini, batu yang akan menjadi saksi kelak diakhirnya dunia tentang apa yang sedang kau perjuangkan. yah benar ! tatapan mata itu kini mulai menjawab, genggaman tanganmu terhadap batu itu sama dengan genggaman tanganku, namun dalam genggamanmu ada sesuatu yang aku cari sahabat...... matanya mulai meneteskan buliran airmata.
hatiku semakin sesak memandang keadaan ini, seakan menguliti perasaanku secara perlahan. dimana keberanianku?? jangan lagi teman, tolong hentikan!! erangku dari balik belukar. tanganmu tak hanya menggenggam batu sobat, tapi cahaya. yang akan aku sampaikan pada seluruh manusia, sekarang aku sudah tenang, lanjutkanlah perjalananku untuk menyampaikan cahaya itu pada dunia tentang kekejaman mereka (zionis). langkahkan kakimu serempak dengan mereka yang ingin bersamamu menggenggam cahaya itu.
biar kutunaikan takdirku disini, berjuanglah kau disana. genggam cahayaku. hatiku terhenti, nafasku semakin berat perjalanan degup jantungku merendah seperti berhasil menunaikan perlarian bermil-mil dari asanya. lalu apa maksud kesiinisanmu padaku sebelumnya? apa karena ketidak berdayaanku berjuang dan bertarung disampingmu? atau ketakutanku sebagi saudaramu ?!/ jangan pernah hentikan pertanyaan tentangku kawan, lanjutkanlah kesinisanmu padaku, hingga hati ini terbakar dan terkoyak dari tempatnya, biarkan dia melonjak dan memporak-porandakan semua yang tak pernah mereka tau....
tunggu aku, jangan pernah berhenti dalam pelarianmu hingga aku datang disebelahmu dan meraung bersama denganmu dalam tarikan teriakan terlepas yang pernah aku lakukan, bukan sekedar teriak dipinggir pantai atau dibibir jurang yang tinggi namun beteriak lepas di depan sang maut. tolong tunggu aku...... pintaku kepadanya dengan sedikit memaksa kini. tangannya perlahan mulai melambai tanda ketidak setujuan atas permintaanku dan kembali bertarung dengan capung besi yang berkeliaran diatas kepala kami, hingga lelah nafas yang sempat tertahan dikerongkongannya, dia lepas dengan begitu saja. kini dia tersenyum dalam pembaringannya seiring dengan meledaknya capung-capung besi itu.
aku bangkit dari tidurku dan mulai menulis tentangnya. aku akan melanjutkan perjalanan genggaman cahayamu.
0 Comments:
Post a Comment
<< Home